Advertisement
Deepfake Rugikan Rp18,4 Triliun, Modus Investasi Bodong
Ilustrasi deepfake / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman deepfake kian mengkhawatirkan. Dalam setahun terakhir, penipuan berbasis manipulasi wajah dan suara ini disebut merugikan korban hingga Rp18,4 triliun secara global.
Data perusahaan keamanan siber SkyShark mencatat total kerugian akibat kejahatan deepfake mencapai 930 juta euro atau sekitar Rp18,4 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan 2024 yang berada di kisaran Rp6 triliun.
Advertisement
Lonjakan hingga tiga kali lipat tersebut menunjukkan teknologi manipulasi video dan audio berbasis kecerdasan buatan makin sulit dideteksi dan semakin sering dimanfaatkan dalam skema penipuan digital.
Laporan Euronews yang dirilis Selasa (23/2/2026) mengungkap salah satu modus paling menguntungkan bagi pelaku adalah pencatutan identitas tokoh publik. Dengan menggabungkan audio dan video palsu berpresisi tinggi, pelaku membuat konten promosi investasi ilegal seolah-olah didukung pejabat negara.
BACA JUGA
Nama-nama seperti Karol Nawrocki dan Friedrich Merz disebut dicatut dalam video deepfake untuk meyakinkan calon korban. Skema ini menyasar masyarakat yang tergiur janji keuntungan besar dalam waktu singkat.
Tidak hanya sektor finansial, teknologi deepfake juga merambah penipuan asmara (romance scam). Pelaku membangun kedekatan emosional melalui panggilan video palsu yang tampak meyakinkan, lalu meminta uang dengan dalih kebutuhan mendesak.
Salah satu kasus mencuat di Prancis ketika seorang wanita kehilangan Rp15,8 miliar setelah tertipu sosok yang menyerupai aktor Hollywood Brad Pitt. Kasus ini menjadi contoh bagaimana manipulasi visual dapat menghancurkan korban secara finansial dan psikologis.
Jaringan kejahatan siber tersebut diketahui beroperasi lintas negara. Para ahli mengidentifikasi basis operasi tersebar di wilayah Afrika Barat dan Asia Tenggara. Negara seperti Kamboja, Myanmar, dan Filipina disebut menjadi titik sentral pusat penipuan digital yang menyasar korban global.
Meski nilai kerugian investasi lebih besar secara nominal, pakar keamanan menilai dampak psikologis penipuan asmara jauh lebih destruktif. Korban sering mengalami trauma emosional mendalam seusai merasa dikhianati, yang efeknya dapat berlangsung lama.
Untuk menghindari jerat deepfake dan investasi bodong, masyarakat diimbau melakukan verifikasi ganda terhadap setiap konten mencurigakan di media sosial. Jika menemukan video yang menjanjikan keuntungan tidak wajar, pastikan memeriksa kebenarannya melalui kanal resmi pemerintah atau lembaga terkait sebelum mengambil keputusan finansial.
Maraknya penipuan deepfake ini menjadi peringatan serius bagi publik agar lebih waspada terhadap manipulasi digital yang semakin canggih dan sulit dibedakan dari konten asli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kasus Pelajar Tewas di Tual Maluku, Bripda MS Akui Lalai dan Menyesal
Advertisement
Nawang Senja Jadi Spot Ngabuburit Favorit di Pantai Glagah
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







