Advertisement
Amazon Akuisisi Globalstar dan Gandeng Apple untuk Tantang Starlink
Ilustrasi Starlink.Starlink - SpaceX
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dengan akses internet terbatas kini memiliki harapan baru seiring manuver raksasa teknologi Amazon di ruang angkasa.
The Business Times mengungkapkan, perusahaan milik Jeff Bezos tersebut resmi mengambil alih perusahaan satelit Globalstar dalam sebuah kesepakatan fantastis senilai US$11,57 miliar atau setara Rp188 triliun. Langkah strategis ini dipastikan bakal memperkuat ekosistem konektivitas satelit dunia, sekaligus menjamin kelanjutan fitur-fitur penting bagi para pengguna perangkat Apple seperti iPhone dan Apple Watch di masa depan.
Advertisement
Akuisisi ini menjadi babak baru dalam persaingan teknologi Direct-to-Device (D2D) yang memungkinkan ponsel biasa terhubung langsung ke satelit tanpa bantuan antena tambahan. Melalui kesepakatan tersebut, Amazon Leo (dahulu Project Kuiper) berhak mengelola 24 satelit Globalstar yang sudah aktif mengorbit serta menguasai lisensi spektrum global yang sangat bernilai. Bagi pengguna iPhone, integrasi ini memastikan layanan krusial seperti Emergency SOS, Find My, dan Roadside Assistance tetap beroperasi lancar di bawah manajemen infrastruktur Amazon.
Reuters melaporkan, langkah besar Amazon ini disebut-sebut sebagai upaya mengejar dominasi Starlink milik Elon Musk yang saat ini masih memimpin pasar internet satelit secara global. Sebagai perbandingan, Starlink telah mengorbitkan hampir 10.000 satelit dan melayani lebih dari 10 juta pengguna, sementara Amazon Leo baru memiliki sekitar 241 satelit. Meski tertinggal secara jumlah, Amazon berambisi mempercepat peluncuran layanan internet berkecepatan hingga 1 Gbps dengan latensi rendah pada pertengahan 2026 mendatang.
BACA JUGA
Apple sendiri sebelumnya telah menggelontorkan dana sebesar US$1,5 miliar dan memegang 20% saham di Globalstar. Seusai akuisisi ini, Amazon telah meneken perjanjian khusus dengan Apple untuk memastikan dukungan layanan satelit bagi perangkat mereka tetap berlanjut tanpa gangguan. Hal ini memberikan jaminan keamanan bagi para petualang atau masyarakat yang berada di wilayah blank spot agar tetap bisa berkomunikasi dalam keadaan darurat melalui jaringan luar angkasa.
Di sisi regulasi, Amazon saat ini tengah berpacu dengan waktu untuk memenuhi target pengorbitan setengah dari 3.236 satelit generasi pertamanya paling lambat Juli 2026. Keterbatasan ketersediaan roket peluncur sempat menjadi kendala, namun akuisisi Globalstar memberikan suntikan teknologi dan aset frekuensi yang bisa memperpendek waktu pengembangan layanan. Reaksi pasar terhadap aksi korporasi ini pun sangat positif, yang ditandai dengan kenaikan harga saham Amazon sebesar 3,8% ke level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Kehadiran Amazon Leo sebagai penantang serius Starlink diprediksi akan membawa dampak positif bagi konsumen global, termasuk masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia. Persaingan antarraksasa teknologi ini diharapkan mampu menekan tarif layanan internet satelit menjadi lebih terjangkau bagi pelaku UMKM di daerah terluar. Dengan ketersediaan konektivitas dari langit yang semakin kompetitif, hambatan geografis dalam mengakses informasi dan peluang ekonomi digital diharapkan dapat segera teratasi tanpa harus menunggu pembangunan kabel fiber optik yang memakan waktu lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Mobil Terjun ke Ceruk Enam Meter di Kalasan Sleman Saat Hujan
- Terjadi Lagi Keracunan Makanan di Sekolah Bantul, Korban 80 Siswa
- Top Ten News Harianjogja.com, Rabu 15 April 2026, Penerapan WFH
- Hujan Lebat Picu Longsor di Sleman, Talud Ambrol di Sejumlah Wilayah
- Pemkab Gunungkidul Akan Bangun TPR Pantai Senilai Rp2,6 Miliar
Advertisement
Advertisement








