Meta Dituding Rekam Aktivitas Karyawan demi Latih AI

Jumali
Jumali Minggu, 17 Mei 2026 11:17 WIB
Meta Dituding Rekam Aktivitas Karyawan demi Latih AI

Logo Meta. Ist

Harianjogja.com, JOGJA— Meta tengah menghadapi gelombang protes internal setelah program pengawasan karyawan untuk pengembangan kecerdasan buatan atau AI memicu kontroversi besar.

Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran terkait privasi pekerja, terutama di tengah rencana pemutusan hubungan kerja besar-besaran yang disebut akan dimulai dalam waktu dekat.

Sorotan utama tertuju pada program bernama Model Capability Initiative (MCI), yang disebut digunakan Meta untuk membantu pengembangan teknologi AI generasi baru.

Melalui program tersebut, Meta dilaporkan memasang perangkat lunak pemantau di komputer kerja karyawan untuk merekam berbagai aktivitas digital.

Aktivitas yang dipantau disebut mencakup ketukan keyboard, pergerakan mouse, hingga tangkapan layar secara berkala.

Meta disebut beralasan sistem tersebut dibutuhkan untuk melatih AI agent yang nantinya mampu bekerja secara otomatis seperti manusia, termasuk menulis kode, membalas email, hingga mengoperasikan aplikasi.

Namun kebijakan itu justru memicu penolakan keras dari sebagian karyawan.

Sejumlah pegawai menilai pengawasan tersebut melanggar batas privasi karena berpotensi merekam aktivitas pribadi di perangkat kerja.

Protes internal semakin membesar setelah Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, disebut menyatakan bahwa tidak tersedia opsi bagi karyawan untuk menolak program tersebut di laptop kerja mereka.

Pernyataan itu memicu reaksi negatif di forum internal perusahaan dan memunculkan dukungan terhadap petisi penolakan program MCI.

Laporan media internasional juga menyebut sebagian karyawan mulai mendukung pembentukan serikat pekerja, khususnya di kantor Meta wilayah Inggris.

Situasi internal Meta semakin sensitif karena perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg itu juga dikabarkan akan melakukan PHK dalam jumlah besar.

Gelombang PHK disebut berpotensi menyasar sekitar 10 persen tenaga kerja global atau hampir 8.000 karyawan.

Rencana tersebut disebut menjadi bagian dari strategi efisiensi dan fokus investasi besar Meta pada pengembangan AI.

Kebijakan pengawasan dan ancaman PHK memunculkan kritik dari kelompok pekerja teknologi.

United Tech and Allied Workers menilai pekerja Meta kini menghadapi tekanan besar akibat strategi AI perusahaan yang dinilai terlalu agresif.

Di sisi lain, Meta masih mempertahankan kebijakan MCI dan belum mengumumkan perubahan terkait sistem pengawasan tersebut.

Kontroversi ini menjadi perhatian luas karena Meta merupakan induk dari sejumlah platform besar seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp.

Perkembangan situasi internal Meta dinilai dapat memengaruhi arah pengembangan AI global sekaligus memunculkan kembali perdebatan soal batas pengawasan perusahaan terhadap pekerja di era kecerdasan buatan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online