Peneliti Temukan Cara Melacak Identitas Lewat Sinyal WiFi

Jumali
Jumali Jum'at, 05 Juni 2026 11:37 WIB
Peneliti Temukan Cara Melacak Identitas Lewat Sinyal WiFi

Ilustrasi. /Freepik


Harianjogja.com, JOGJA—Ancaman baru terhadap privasi digital muncul dari teknologi yang digunakan jutaan orang setiap hari. Peneliti keamanan siber dari Karlsruhe Institute of Technology (KIT), Jerman, menemukan metode yang memungkinkan identitas seseorang dikenali hanya melalui pergerakannya di dalam ruangan dengan memanfaatkan sinyal WiFi yang sudah tersedia.

Temuan terbaru tersebut mencatat tingkat akurasi hingga 99,5% dan menjadi perhatian serius karena tidak membutuhkan perangkat keras tambahan, tidak memerlukan akses ke jaringan WiFi target, serta dapat dijalankan hanya dengan menangkap sinyal dari router yang sudah beroperasi.

Metode yang diberi nama BFId itu menawarkan pendekatan berbeda dibanding teknologi identifikasi berbasis WiFi yang selama ini digunakan. Sebelumnya, sistem serupa mengandalkan channel state information (CSI) yang memerlukan perangkat khusus dan akses langsung ke perangkat keras router.

Dalam penelitian terbaru, tim KIT memanfaatkan beamforming feedback information (BFI), yaitu data umpan balik yang dikirim perangkat seperti ponsel atau laptop ke router untuk membantu mengoptimalkan kualitas sinyal WiFi.

Permasalahan muncul karena data BFI tersebut dikirim tanpa enkripsi pada lapisan Media Access Control (MAC). Akibatnya, data dapat ditangkap secara pasif menggunakan adaptor WiFi biasa yang mendukung mode pemantauan atau monitor mode.

Dengan kondisi tersebut, secara teori seseorang hanya memerlukan laptop dan perangkat WiFi tertentu untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam proses identifikasi.

Penelitian ini melibatkan 197 partisipan dan menjadi salah satu basis data terbesar yang pernah digunakan dalam riset identifikasi manusia berbasis WiFi. Hasilnya menunjukkan tingkat akurasi yang jauh melampaui metode sebelumnya.

Pada pengujian terhadap 170 individu, sistem BFId mampu mencapai akurasi identifikasi sebesar 99,5%. Sebagai perbandingan, metode CSI yang selama ini digunakan hanya mencapai akurasi sekitar 82,4%.

Hasil tersebut menunjukkan bahwa sistem hampir tidak melakukan kesalahan identifikasi. Bahkan ketika peneliti mencoba mengurangi frekuensi pengiriman data beamforming untuk menekan risiko privasi, tingkat akurasi sistem tetap sangat tinggi.

Bagi masyarakat umum, temuan ini berarti keberadaan seseorang berpotensi dikenali meskipun tidak membawa perangkat elektronik apa pun. Hal itu dimungkinkan karena tubuh manusia memiliki karakteristik unik dalam memantulkan, menyerap, dan mengubah pola rambatan sinyal WiFi.

Para peneliti menyebut setiap individu pada dasarnya memiliki "sidik jari elektromagnetik" yang berbeda. Faktor seperti tinggi badan, bentuk tubuh, hingga pola berjalan dapat menghasilkan karakteristik sinyal yang khas dan dapat dikenali oleh sistem.

Risiko ini menjadi semakin relevan setelah IEEE pada 2025 menerbitkan standar 802.11bf yang membuka jalan bagi pengembangan teknologi WiFi sensing. Teknologi tersebut memungkinkan jaringan WiFi digunakan untuk mendeteksi keberadaan manusia, memantau aktivitas, hingga mengenali perubahan lingkungan sekitar.

Di sisi lain, perlindungan privasi dalam standar tersebut dinilai belum berkembang secepat kemampuan teknologinya.

"Teknologi ini sangat kuat, tetapi pada saat yang sama menimbulkan risiko terhadap hak-hak mendasar kita, terutama privasi," ujar Profesor Thorsten Strufe dari KASTEL, institut keamanan siber KIT, dikutip dari TechXplore.

Para peneliti kini mendorong penguatan perlindungan pada standar WiFi generasi berikutnya. Salah satu opsi yang dibahas adalah mengenkripsi data BFI agar tidak dapat ditangkap pihak lain. Namun langkah tersebut tidak mudah karena membutuhkan perubahan besar pada standar WiFi global dan berpotensi memengaruhi kompatibilitas perangkat lama.

Alternatif lain yang diusulkan meliputi penambahan mekanisme autentikasi pada proses beamforming, pembatasan frekuensi pengiriman data BFI, hingga pengacakan informasi yang dikirim agar lebih sulit dianalisis oleh pihak ketiga.

Temuan ini dijadwalkan dipresentasikan dalam ACM Conference on Computer and Communications Security (CCS) di Taiwan, salah satu konferensi keamanan siber paling bergengsi di dunia.

Sementara regulasi dan standar keamanan terus dibahas, pengguna WiFi disarankan lebih berhati-hati dalam menggunakan jaringan nirkabel. Menggunakan jaringan yang tepercaya, mematikan WiFi saat tidak diperlukan, serta memahami risiko privasi dari teknologi yang digunakan menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan saat ini. Di tengah berkembangnya teknologi WiFi sensing, perlindungan privasi menjadi tantangan baru yang akan terus menjadi perhatian industri teknologi dan regulator di berbagai negara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online