Penjualan BYD Anjlok 15 Persen, Ekspor Justru Melonjak 67,8 Persen

Jumali
Jumali Sabtu, 29 Agustus 2026 18:57 WIB
Penjualan BYD Anjlok 15 Persen, Ekspor Justru Melonjak 67,8 Persen

BYD Dolphin. - Harian Jogja/Antara

Harianjogja.com, JOGJA— BYD menghadapi situasi yang kontras pada semester pertama 2026. Penjualan kendaraan energi baru atau new energy vehicle (NEV) di pasar secara keseluruhan tertekan, tetapi ekspor justru mencatat pertumbuhan signifikan hingga 67,8%.

Sepanjang Januari-Juni 2026, BYD membukukan penjualan kumulatif sekitar 1,8 juta unit. Angka tersebut turun 15,72% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Di tengah penurunan itu, ekspor BYD justru mencapai sekitar 792.000 kendaraan. Berdasarkan data Asosiasi Produsen Otomotif China, jumlah ekspor tersebut meningkat 67,8% secara tahunan.

Dengan capaian tersebut, kendaraan yang dikirim ke pasar luar negeri kini menyumbang hampir 44% dari total penjualan BYD.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan penting dalam strategi pertumbuhan BYD. Ketika pasar domestik China semakin ketat, ekspansi internasional menjadi salah satu penopang utama perusahaan.

Pendapatan dan Laba BYD Ikut Tertekan

Tekanan tidak hanya terlihat dari penjualan. Laporan keuangan interim BYD yang dirilis pada 28 Agustus 2026 menunjukkan pendapatan dan laba bersih perusahaan juga mengalami penurunan selama enam bulan pertama tahun ini.

Pendapatan operasional BYD tercatat sekitar 344,815 miliar yuan atau US$50,6 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp895,62 triliun.

Pendapatan itu turun 7,13% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham mencapai sekitar 12,32 miliar yuan atau US$1,8 miliar. Jika dikonversikan dengan asumsi kurs yang sama, nilainya sekitar Rp31,86 triliun.

Laba bersih tersebut turun 20,54% secara tahunan.

BYD menjelaskan tekanan terhadap laba terutama dipengaruhi fluktuasi nilai tukar dan kerugian kurs. Meski demikian, perusahaan menyebut profitabilitas bisnis intinya masih relatif stabil.

Menariknya, kinerja kuartal II 2026 justru menunjukkan perbaikan. Laba bersih BYD pada periode tersebut meningkat 30% dibandingkan kuartal II tahun sebelumnya.

Margin kotor perusahaan juga mencapai 18,9%. Angka tersebut menjadi margin kotor tertinggi BYD dalam satu tahun terakhir.

Produksi Baterai Jadi Salah Satu Kendala

Ketua sekaligus Presiden BYD Wang Chuanfu mengungkapkan bahwa tekanan terhadap penjualan juga berkaitan dengan kendala rantai pasokan.

Salah satu persoalan yang dihadapi perusahaan adalah keterbatasan kapasitas produksi Baterai Blade generasi kedua.

Baterai tersebut masih berada dalam tahap peningkatan kapasitas produksi. Karena itu, kemampuan BYD untuk meningkatkan penjualan sepanjang tahun ini turut bergantung pada seberapa banyak baterai yang dapat diproduksi.

"Penjualan tahun ini bergantung pada produksi baterai," kata Wang.

Seorang staf dari bisnis pengisian daya cepat BYD juga mengonfirmasi bahwa kapasitas produksi baterai telah meningkat setelah lini produksi menjalani peningkatan selama enam bulan.

Namun, kapasitas yang tersedia saat ini masih terbatas.

Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi BYD ketika permintaan terhadap kendaraan energi baru terus berkembang, baik di China maupun pasar internasional.

Bisnis Otomotif Masih Jadi Penopang Utama

Dari sisi sumber pendapatan, bisnis otomotif dan produk terkait masih menjadi kontributor terbesar BYD.

Segmen tersebut menghasilkan pendapatan sekitar 275,34 miliar yuan atau US$40,4 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.700 per dolar AS, nilainya setara sekitar Rp715,08 triliun.

Namun, pendapatan segmen otomotif dan produk terkait tersebut turun 8,98% secara tahunan. Kontribusinya terhadap total pendapatan BYD mencapai 79,85%.

Sementara itu, segmen elektronik dan produk lainnya mencatat pertumbuhan tipis.

Pendapatan segmen tersebut meningkat 0,96% menjadi sekitar 69,405 miliar yuan atau US$10,2 miliar. Nilainya setara sekitar Rp180,54 triliun dan memberikan kontribusi 20,13% terhadap total pendapatan BYD.

Perbedaan kinerja tersebut memperlihatkan bahwa bisnis kendaraan masih menjadi sumber pendapatan utama perusahaan, sekaligus menjadi segmen yang paling terdampak ketika penjualan otomotif mengalami tekanan.

Ekspor BYD Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Berbeda dengan pasar domestik, kinerja BYD di luar China justru menunjukkan perkembangan yang sangat kuat.

Ekspor sebanyak 792.000 kendaraan pada semester pertama 2026 meningkat 67,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut membuat ekspor menjadi salah satu faktor penting yang menjaga momentum bisnis BYD di tengah tekanan pasar domestik.

Wang Chuanfu bahkan optimistis perusahaan memiliki peluang untuk melampaui target ekspor tahunan sebesar 1,5 juta unit.

Pertumbuhan juga terlihat dari sejumlah merek kelas atas yang berada di bawah BYD, yakni Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang.

Penjualan gabungan ketiga merek tersebut mencapai sekitar 228.000 unit pada semester pertama 2026. Jumlah itu meningkat 61% secara tahunan.

Kontribusi Denza, Fang Cheng Bao, dan YangWang kini mencapai sekitar 12,6% dari total penjualan BYD.

Kinerja tersebut menjadi sinyal bahwa BYD tidak hanya mengandalkan kendaraan listrik massal, tetapi juga berusaha memperkuat posisi di segmen kendaraan premium.

Persaingan di China Semakin Ketat

Meski ekspor mengalami pertumbuhan pesat, BYD tetap menghadapi tantangan besar di pasar domestik China.

Perusahaan yang selama ini dikenal sebagai produsen kendaraan dengan penjualan terbesar di China tersebut harus menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Penjualan global BYD sebelumnya bahkan mengalami penurunan selama delapan bulan berturut-turut sebelum peningkatan ekspor membantu membalikkan tren tersebut.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa pasar China masih menjadi tantangan tersendiri bagi BYD.

Pada semester pertama 2026, penjualan domestik BYD di China mencapai sekitar 1,016 juta unit.

Sementara itu, penjualan domestik Geely Auto mencapai sekitar 950.000 unit. Angka Geely Auto tersebut mencakup kendaraan dengan mesin pembakaran internal.

Selisih penjualan kedua produsen tersebut kini semakin tipis.

Dengan kondisi tersebut, persaingan BYD dan Geely Auto di pasar otomotif China diperkirakan semakin ketat hingga akhir 2026.

Bagi BYD, pertumbuhan ekspor menjadi modal penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik. Namun, perusahaan tetap perlu menyelesaikan persoalan kapasitas baterai sekaligus mempertahankan profitabilitas di tengah persaingan kendaraan energi baru yang semakin agresif.

Jika ekspansi internasional terus tumbuh dan kapasitas produksi mampu mengejar permintaan, pasar luar negeri berpotensi menjadi sumber pertumbuhan utama BYD pada paruh kedua 2026.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online