Jangan Salah, Ini yang Menentukan Umur Baterai Mobil Listrik

Jumali
Jumali Rabu, 09 September 2026 21:47 WIB
Jangan Salah, Ini yang Menentukan Umur Baterai Mobil Listrik

Ilustrasi mobil listrik

Harianjogja.com, JOGJA— Daya tahan baterai masih menjadi salah satu pertimbangan utama calon konsumen sebelum membeli mobil listrik. Maklum, baterai merupakan salah satu komponen paling penting sekaligus mahal pada kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).

Namun, baterai mobil listrik tidak serta-merta rusak atau mati total setelah melewati usia tertentu. Seiring pemakaian, kapasitas baterai akan mengalami degradasi sehingga kemampuan menyimpan energi secara bertahap berkurang.

Data terbaru dari Geotab berdasarkan analisis terhadap lebih dari 22.700 kendaraan listrik dari 21 merek dan model menunjukkan rata-rata degradasi baterai EV sekitar 2,3% per tahun. Studi tersebut juga menyimpulkan baterai mobil listrik modern secara umum masih memiliki ketahanan yang baik dan dapat bertahan melampaui siklus penggunaan kendaraan yang biasanya direncanakan.

Artinya, tidak tepat jika usia baterai mobil listrik hanya ditentukan berdasarkan angka 10 atau 20 tahun. Kondisi baterai pada akhirnya sangat dipengaruhi oleh pola pengisian, temperatur, penggunaan kendaraan, serta sistem pengelolaan baterai yang digunakan pada masing-masing model.

Faktor yang Memengaruhi Umur Baterai Mobil Listrik

Salah satu faktor utama adalah pola pengisian daya. Semakin sering baterai digunakan dan diisi dalam kondisi tertentu, semakin besar pula pengaruhnya terhadap proses degradasi. Meski demikian, penggunaan sehari-hari tidak otomatis membuat baterai cepat rusak.

Suhu juga berpengaruh terhadap kesehatan baterai. Data Geotab menunjukkan kendaraan yang beroperasi di wilayah panas mengalami degradasi sekitar 0,4% lebih tinggi per tahun dibandingkan kendaraan di wilayah dengan suhu lebih ringan.

Pengisian cepat atau DC fast charging menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan. Berdasarkan analisis Geotab, kendaraan yang banyak menggunakan pengisian DC berdaya lebih dari 100 kW mengalami tingkat degradasi hingga sekitar 3% per tahun. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kendaraan yang mayoritas menggunakan AC atau pengisian berdaya lebih rendah, yakni sekitar 1,5% per tahun.

Meski begitu, fast charging tidak berarti harus dihindari. Teknologi tersebut tetap dirancang sebagai bagian dari penggunaan kendaraan listrik. Yang perlu diperhatikan adalah pola penggunaan dan rekomendasi pengisian dari produsen kendaraan.

State of Charge atau SoC juga berpengaruh. Geotab menemukan degradasi meningkat ketika kendaraan menghabiskan lebih dari 80% waktunya pada tingkat pengisian yang sangat tinggi atau sangat rendah.

Berapa Lama Baterai Mobil Listrik Bertahan?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua mobil listrik. Jenis baterai, sistem manajemen baterai, temperatur, pola penggunaan, jarak tempuh, serta kebiasaan pengisian membuat tingkat degradasi setiap kendaraan bisa berbeda.

Karena itu, konsumen sebaiknya tidak hanya melihat klaim usia pakai baterai, tetapi juga memeriksa garansi yang diberikan produsen. Garansi dapat memberikan gambaran mengenai periode perlindungan yang diberikan terhadap baterai kendaraan.

Di Indonesia, misalnya, Hyundai memberikan garansi high-voltage battery untuk kendaraan listrik dan hybrid selama delapan tahun atau 160.000 kilometer, mana yang tercapai lebih dulu.

BYD juga memberikan garansi baterai traksi selama delapan tahun atau 160.000 kilometer untuk sejumlah model, dengan ketentuan State of Health atau SoH baterai minimal 70%.

Perbedaan ketentuan tersebut menunjukkan bahwa konsumen perlu melihat buku garansi masing-masing merek dan model. Durasi perlindungan, batas jarak tempuh, ambang kapasitas, serta kondisi yang dapat membatalkan garansi tidak selalu sama.

Cara Menjaga Baterai Mobil Listrik

Pemilik mobil listrik dapat memperhatikan sejumlah kebiasaan untuk membantu menjaga kondisi baterai. Salah satunya adalah mengikuti panduan pengisian yang diberikan produsen, terutama mengenai batas pengisian dan penggunaan fast charging.

Pengisian daya di rumah atau menggunakan AC dapat menjadi pilihan untuk kebutuhan rutin jika sesuai dengan rekomendasi kendaraan. Sementara itu, DC fast charging dapat dimanfaatkan ketika membutuhkan pengisian lebih cepat, misalnya dalam perjalanan jauh.

Pemilik juga perlu memperhatikan kondisi temperatur kendaraan dan menghindari kebiasaan yang membuat baterai terlalu lama berada pada tingkat pengisian sangat tinggi atau sangat rendah.

Perawatan berkala di bengkel resmi juga penting karena pemeriksaan tidak hanya berkaitan dengan baterai, tetapi mencakup sistem kelistrikan dan komponen kendaraan lainnya. BYD, misalnya, menyebut pemeriksaan berkala mencakup baterai, sistem kelistrikan, dan motor untuk menjaga performa kendaraan sekaligus mempertahankan perlindungan garansi.

Dengan demikian, calon konsumen tidak perlu melihat baterai mobil listrik hanya dari pertanyaan berapa tahun baterai akan bertahan. Kondisi aktual baterai lebih tepat dipahami melalui tingkat degradasinya, pola penggunaan kendaraan, kebiasaan pengisian, serta ketentuan garansi yang diberikan masing-masing produsen.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online