Industri Pelumas Ubah Strategi Hadapi Gempuran Kendaraan Listrik

Desyinta Nuraini
Desyinta Nuraini Minggu, 27 September 2026 14:47 WIB
Industri Pelumas Ubah Strategi Hadapi Gempuran Kendaraan Listrik

Oli mesin. - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Industri pelumas nasional mulai menyiapkan perubahan strategi bisnis di tengah meningkatnya penetrasi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV). Produsen pelumas diperkirakan akan semakin mengandalkan pasar industri, seperti pertambangan, manufaktur, smelter, hingga pembangkit listrik, ketika permintaan dari kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) melambat.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan bisnis pelumas dalam tiga hingga lima tahun ke depan tidak akan menyusut tajam. Menurutnya, sumber permintaan pelumas tidak hanya berasal dari kendaraan penumpang.

Peralihan kendaraan konvensional menuju kendaraan listrik justru akan mendorong produsen memperkuat pasar industri sekaligus mengembangkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

“Dalam tiga sampai lima tahun ke depan, industri pelumas Indonesia tidak akan menyusut tajam, tetapi pertumbuhannya akan bergeser dari volume ke nilai,” ujar Yusuf kepada Bisnis, dikutip Minggu (27/9/2026).

Menurut Yusuf, lebih dari separuh pasar pelumas saat ini masih berasal dari sepeda motor. Sementara itu, elektrifikasi pada segmen tersebut berjalan lebih lambat dibandingkan kendaraan roda empat sehingga permintaan pelumas konvensional masih memiliki ruang untuk bertahan.

Namun, dalam jangka lebih panjang, tekanan terhadap volume pelumas otomotif diperkirakan semakin terasa. Kondisi tersebut membuat pasar industri menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang penting bagi produsen pelumas.

“Pelumas industri akan menjadi penyangga penting, terutama untuk pertambangan, manufaktur, pembangkit dan transmisi listrik, pelayaran, smelter, pusat data, serta kendaraan logistik berat,” tuturnya.

Tantangan Biaya Industri Pelumas

Di sisi lain, industri pelumas masih menghadapi tekanan biaya akibat ketergantungan terhadap impor base oil dan aditif. Pelemahan rupiah serta kenaikan harga minyak berpotensi menekan margin, terutama bagi produsen kecil dan perusahaan pencampur lokal.

“Produsen kecil dan perusahaan pencampur lokal akan paling tertekan, sehingga konsolidasi industri mungkin terjadi jika kondisi ini berlangsung lama,” sebut Yusuf.

Untuk memperkuat industri domestik, Yusuf melihat terdapat ruang peningkatan nilai tambah melalui pengembangan base oil Grup II dan III, pelumas berbasis oleokimia sawit, serta daur ulang oli bekas.

Penguatan riset, pemenuhan standardisasi global, dan kebijakan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) juga dinilai penting. Langkah tersebut diperlukan agar produsen lokal tidak hanya bertahan di pasar ritel, tetapi juga dapat masuk ke rantai pasok industri dan kendaraan listrik.

EV Tetap Membutuhkan Produk Pelumas

Pertumbuhan kendaraan listrik juga akan mengubah struktur permintaan pelumas di sektor otomotif. Kendaraan listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) memang tidak membutuhkan oli mesin, tetapi tetap memerlukan sejumlah fluida dan produk pelumas khusus.

Produk tersebut mencakup fluida transmisi, pendingin baterai, gemuk khusus, hingga minyak rem. Meskipun volumenya lebih kecil dibandingkan kebutuhan pelumas kendaraan ICE, produk untuk kendaraan listrik memiliki spesifikasi lebih tinggi sehingga membuka peluang peningkatan nilai jual.

Sementara itu, kendaraan hibrida masih menggunakan oli mesin sehingga menjadi salah satu ceruk pasar dalam masa transisi. Penggunaan oli dengan viskositas rendah dan kandungan sintetis yang lebih tinggi juga membuka peluang premiumisasi produk pelumas.

“Dalam masa transisi, hybrid menjadi peluang premiumisasi bagi produsen pelumas,” jelasnya.

Akan tetapi, Yusuf menilai peluang pada segmen EV tidak dapat sepenuhnya disamakan dengan pasar pelumas otomotif konvensional yang mengandalkan kanal ritel.

Produk untuk kendaraan listrik cenderung terhubung dengan kebutuhan dan standar yang ditetapkan produsen kendaraan. Peluang terbesar akan dinikmati produsen yang memiliki kemampuan riset, memenuhi sertifikasi, dan masuk sebagai pemasok resmi.

“Bagi pemain lokal yang masih bergantung pada penjualan oli mesin di pasar ritel, EV dapat menjadi tekanan jika tidak diikuti investasi teknologi,” pungkasnya.

FAQ Industri Pelumas dan Kendaraan Listrik

1. Bagaimana industri pelumas menghadapi peralihan ke kendaraan listrik?
Industri pelumas memperkuat pasar industri dan mengembangkan produk dengan nilai tambah lebih tinggi untuk menghadapi peralihan ke kendaraan listrik.

2. Apakah permintaan pelumas akan menurun dengan adanya kendaraan listrik?
Permintaan pelumas tidak akan menyusut tajam dalam tiga hingga lima tahun ke depan karena masih ada permintaan dari sektor industri dan kendaraan konvensional.

3. Apa tantangan utama bagi produsen pelumas lokal?
Produsen pelumas lokal menghadapi tantangan biaya impor base oil dan aditif, serta tekanan dari pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak.

4. Apakah kendaraan listrik masih membutuhkan produk pelumas?
Ya. Kendaraan listrik membutuhkan fluida transmisi, pendingin baterai, gemuk khusus, dan minyak rem meskipun tidak memerlukan oli mesin.

5. Bagaimana peluang produsen pelumas dalam masa transisi ke kendaraan listrik?
Produsen pelumas memiliki peluang dalam premiumisasi produk untuk kendaraan hibrida dan pengembangan produk khusus untuk kendaraan listrik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online