OpenAI Pasang Watermark Tak Terlihat di ChatGPT dan Codex
OpenAI akan memasang watermark tak terlihat pada teks ChatGPT dan Codex di Uni Eropa. Ini cara kerja dan batasan deteksinya.
Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak lagi sekadar digunakan untuk mencari informasi, membuat tulisan, menerjemahkan bahasa, atau membantu pekerjaan. Bagi sebagian orang, chatbot juga mulai menjadi tempat bercerita ketika sedang kesepian atau menghadapi persoalan pribadi.
Chatbot yang tersedia sepanjang waktu membuat pengguna dapat berbicara kapan saja tanpa harus menunggu orang lain merespons. Kemampuan AI mengikuti alur percakapan dan memberikan jawaban yang terasa personal juga membuat interaksi tersebut semakin mirip percakapan antarmanusia.
Fenomena ini kemudian menarik perhatian peneliti. Sejumlah studi terbaru mulai melihat lebih jauh hubungan manusia dengan AI companion, termasuk kaitannya dengan kesepian, kedekatan emosional, pengungkapan diri, ketergantungan terhadap AI, serta kesejahteraan psikologis.
Hasilnya menunjukkan hubungan manusia dengan chatbot tidak sesederhana anggapan bahwa AI selalu menjadi teman yang membantu atau sebaliknya selalu berdampak buruk.
Salah satu daya tarik chatbot adalah kemudahannya. Pengguna dapat membuka percakapan kapan saja dan langsung menyampaikan persoalan tanpa harus terlebih dahulu mencari orang yang bersedia mendengarkan.
Bagi sebagian orang, situasi tersebut dapat membuat AI terasa sebagai ruang yang nyaman untuk mengungkapkan pikiran maupun perasaan.
Penelitian yang diterbitkan Nature Human Behaviour pada 2026 mengamati penggunaan AI companion melalui Character.AI. Studi tersebut melibatkan 1.131 orang dewasa di Amerika Serikat serta menganalisis ribuan sesi percakapan untuk melihat kaitan penggunaan chatbot dengan jaringan sosial dan kesejahteraan pengguna.
Peneliti menemukan pengguna dengan jaringan sosial yang lebih kecil lebih mungkin menggunakan chatbot untuk mendapatkan companionship atau rasa ditemani.
Namun, penggunaan AI sebagai teman tidak otomatis berarti memberikan dampak negatif. Hubungan antara penggunaan chatbot dan kesejahteraan pengguna dipengaruhi oleh kondisi sosial serta cara chatbot digunakan.
Kaitan tersebut menjadi lebih kuat ketika interaksi dilakukan secara intensif dan melibatkan pengungkapan diri dalam tingkat tinggi.
Penelitian kolaborasi MIT Media Lab dan OpenAI pada 2025 juga memperlihatkan bahwa intensitas penggunaan menjadi salah satu faktor penting.
Studi selama empat pekan tersebut melibatkan hampir 1.000 peserta yang menggunakan ChatGPT. Peneliti melihat sejumlah aspek, termasuk kesepian, interaksi sosial, ketergantungan emosional terhadap AI, serta penggunaan AI yang bermasalah.
Hasil penelitian menunjukkan penggunaan harian yang lebih lama berkaitan dengan sejumlah hasil sosial dan emosional yang kurang baik. Intensitas penggunaan yang lebih tinggi juga berkaitan dengan tingkat kesepian dan ketergantungan emosional yang lebih tinggi serta interaksi sosial dengan orang lain yang lebih rendah.
Meski demikian, hasilnya tidak sama untuk semua pengguna maupun semua jenis percakapan.
Percakapan personal, misalnya, memiliki pola hubungan yang berbeda dengan percakapan nonpersonal. Karakteristik pengguna juga berpengaruh. Orang yang lebih mudah membentuk keterikatan dalam hubungan dan memandang AI sebagai bagian dari kehidupan personal lebih mungkin mengalami dampak negatif tertentu dari penggunaan chatbot.
Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata apakah seseorang berbicara dengan AI. Frekuensi, tujuan penggunaan, jenis percakapan, serta kondisi sosial pengguna ikut menentukan dampaknya.
Kemampuan chatbot menghasilkan jawaban yang terdengar empatik menjadi salah satu alasan AI dapat terasa dekat.
Namun, penelitian yang diterbitkan Nature Human Behaviour pada 2025 menunjukkan adanya perbedaan persepsi ketika pengguna mengetahui respons tersebut berasal dari manusia atau AI.
Penelitian tersebut menggabungkan sembilan studi dengan total 6.282 peserta. Respons yang dianggap berasal dari manusia dinilai lebih empatik dan suportif dibandingkan respons yang disebut berasal dari AI.
Peserta juga lebih banyak memilih manusia ketika mencari keterlibatan emosional.
Temuan ini menunjukkan kemampuan AI menghasilkan kalimat yang empatik belum otomatis membuat hubungan emosional dengan chatbot setara dengan hubungan antarmanusia.
Ada faktor lain yang ikut menentukan, salah satunya adalah persepsi pengguna mengenai siapa yang memberikan respons.
Menariknya, penelitian lain menunjukkan AI dapat menciptakan rasa kedekatan yang kuat dalam kondisi tertentu.
Studi yang diterbitkan Communications Psychology pada 2025 melibatkan 492 peserta dalam dua eksperimen terkontrol. Peneliti menguji percakapan emosional antara peserta dan lawan bicara yang responsnya dibuat oleh manusia atau AI.
Peserta tidak diberi tahu sumber respons tersebut. Dalam kondisi tertentu, respons yang sebenarnya dibuat AI menghasilkan rasa kedekatan yang lebih tinggi dibandingkan respons manusia ketika peserta mengira lawan bicaranya adalah manusia.
Salah satu faktor yang ditemukan adalah pengungkapan diri. Respons AI dalam eksperimen cenderung mengandung lebih banyak pengungkapan diri sehingga peserta ikut membuka diri.
Namun, ketika peserta mengetahui bahwa mereka sedang berbicara dengan AI, rasa kedekatan tersebut menurun meskipun tidak sepenuhnya hilang.
Artinya, kedekatan emosional dalam percakapan tidak hanya ditentukan oleh isi jawaban. Pengetahuan pengguna mengenai identitas lawan bicara juga dapat mengubah pengalaman tersebut.
Perkembangan AI companion membuat perhatian peneliti bergeser dari sekadar kemampuan chatbot menjawab pertanyaan menjadi bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam kehidupan sosial.
Studi terbaru mengenai AI companion yang diterbitkan Nature Human Behaviour pada 2026 mengamati perubahan perilaku pengguna ketika terjadi perubahan besar pada layanan AI.
Peneliti menganalisis 54.861 unggahan dari forum Reddit yang berkaitan dengan Replika dan ChatGPT serta data dari 1.452 peserta dalam tujuh survei.
Dua peristiwa yang diamati adalah penghapusan fitur erotic role play pada Replika dan peluncuran GPT-5 pada ChatGPT.
Perubahan tersebut diikuti peningkatan respons negatif dan narasi mengenai kehilangan hubungan dengan AI. Pada Replika, proporsi unggahan negatif meningkat 24,7 poin persentase, sedangkan pada ChatGPT meningkat 13 poin persentase.
Peneliti juga menemukan peningkatan respons berkaitan dengan kesedihan dan persoalan kesehatan mental, dengan dampak yang lebih besar pada pengguna Replika.
Dalam survei, sebagian pengguna Replika bahkan melaporkan tingkat kedekatan dengan AI yang dapat melampaui sejumlah hubungan manusia yang dibandingkan dalam penelitian.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa bagi sebagian pengguna, hubungan dengan AI companion bukan lagi sekadar interaksi dengan perangkat lunak.
Berbagai penelitian tersebut belum memberikan dasar untuk menyimpulkan bahwa AI dapat menggantikan manusia sebagai teman atau sumber dukungan emosional.
Sebaliknya, penelitian memperlihatkan gambaran yang jauh lebih kompleks.
AI memang dapat memberikan ruang percakapan yang mudah diakses dan membuat sebagian orang merasa didengarkan. Dalam kondisi tertentu, chatbot bahkan dapat menghasilkan rasa kedekatan yang kuat.
Namun, penggunaan yang semakin intensif juga dikaitkan dengan kesepian, ketergantungan emosional, dan berkurangnya interaksi sosial dalam sejumlah penelitian.
Di sisi lain, ketika pengguna secara sadar mencari keterlibatan emosional, manusia masih lebih sering dipilih dibandingkan AI.
Karena itu, keberadaan chatbot sebagai teman curhat tidak semata-mata persoalan teknologi. Yang lebih penting adalah bagaimana AI digunakan dan apakah interaksi tersebut melengkapi kehidupan sosial seseorang atau justru mulai menggantikannya.
Bagi pengguna, AI mungkin dapat menjadi tempat berbicara ketika teman atau keluarga sedang tidak tersedia. Namun, berbagai penelitian tersebut menunjukkan hubungan dengan manusia tetap memiliki peran penting yang belum sepenuhnya dapat digantikan oleh chatbot.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
OpenAI akan memasang watermark tak terlihat pada teks ChatGPT dan Codex di Uni Eropa. Ini cara kerja dan batasan deteksinya.
Manajer KDMP mengeluhkan ketidakjelasan kerja, penempatan jauh dari domisili, hingga mekanisme relokasi setelah menerima PKWT.
Mark Zuckerberg mengaku tak memiliki gelar sarjana saat dicecar soal dasar menilai risiko beauty filter Instagram terhadap pengguna muda.
Telkomsel dan ITNY berkolaborasi mengembangkan talenta digital mahasiswa melalui magang, guest lecturer, dan berbagai program edukasi digital.
Triumph Bonneville T40 dan T40 Black hadir dengan mesin 400 cc, desain klasik, serta fitur modern. Harga baru diumumkan pada awal 2027.
Pekerja desa seperti petani, pedagang, dan buruh tani kini bisa mendapat perlindungan BPJS Ketenagakerjaan dengan iuran mulai Rp8.400 per bulan.