10 Kelompok Pekerjaan yang Paling Terdampak Otomatisasi AI

Jumali
Jumali Sabtu, 10 Oktober 2026 20:27 WIB
10 Kelompok Pekerjaan yang Paling Terdampak Otomatisasi AI

Ilustrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) diperkirakan mengubah peta lapangan kerja di Amerika Serikat (AS) dalam satu dekade mendatang. Sekitar 11 juta pekerja berpotensi harus berpindah profesi pada 2035 karena perubahan kebutuhan tenaga kerja yang dipicu otomatisasi dan perkembangan teknologi.

Angka tersebut merupakan proyeksi McKinsey Global Institute (MGI) dalam laporan Workforce in Motion: Skills and Pathways to Future Jobs in the United States yang terbit pada 29 September 2026. Perkiraan itu setara dengan sekitar 7% pekerja AS saat ini. 

Namun, laporan tersebut tidak menyatakan bahwa seluruh pekerja yang terdampak akan kehilangan pekerjaan. Sebagian besar diperkirakan masih dapat bertahan di bidangnya, meskipun tugas dan keterampilan yang dibutuhkan akan berubah.

McKinsey memperkirakan otomatisasi dapat mengurangi permintaan tenaga kerja setara 36 juta pekerjaan. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi, perkembangan industri AI, dan perubahan kebutuhan masyarakat dapat menciptakan permintaan terhadap lebih dari 40 juta pekerjaan baru hingga 2035.

Tantangan terbesarnya bukan semata-mata jumlah pekerjaan yang berkurang, melainkan kemampuan pekerja untuk beralih ke pekerjaan yang membutuhkan keterampilan berbeda.

10 kelompok pekerjaan yang terdampak otomatisasi

Laporan McKinsey menilai potensi otomatisasi berdasarkan aktivitas yang membentuk suatu pekerjaan. Karena itu, persentase jam kerja yang dapat diotomatisasi tidak otomatis berarti persentase pekerja yang akan kehilangan pekerjaan.

Dalam daftar kelompok pekerjaan yang disorot dalam naskah sumber, dampaknya mencakup bidang administrasi, pertanian, teknologi, manufaktur, penjualan, keuangan, layanan makanan, media, logistik, serta instalasi dan perbaikan.

Berikut data yang dicantumkan dalam daftar tersebut:

  1. Administrasi dan dukungan perkantoran. Kelompok ini mencakup sekitar 18 juta pekerja penuh waktu. Sebanyak 81% jam kerjanya dinilai berpotensi terdampak teknologi, dengan proyeksi penurunan permintaan tenaga kerja 38%.

  2. Pertanian, perikanan, dan kehutanan. Kelompok ini mencakup sekitar 400.000 pekerja. Potensi otomatisasi mencapai 76% jam kerja, sedangkan penurunan permintaan tenaga kerja diperkirakan 43%.

  3. Teknologi dan analitik. Dengan sekitar 5,2 juta pekerja penuh waktu, kelompok ini memiliki potensi otomatisasi 70% jam kerja dan proyeksi penurunan permintaan tenaga kerja 22%.

  4. Manufaktur dan produksi. Sekitar 8,5 juta pekerja berada di kelompok ini. Potensi otomatisasi disebut mencapai 68% jam kerja, dengan penurunan permintaan tenaga kerja 25%.

  5. Ritel dan penjualan. Kelompok dengan sekitar 13,3 juta pekerja ini memiliki potensi otomatisasi 67% jam kerja dan penurunan permintaan tenaga kerja 27%.

  6. Bisnis dan keuangan. Sekitar 10,5 juta pekerja berada di kelompok ini. Potensi otomatisasi mencapai 62% jam kerja, sementara penurunan permintaan diperkirakan 18%.

  7. Layanan makanan. Kelompok ini mencakup sekitar 13,7 juta pekerja, dengan potensi otomatisasi 60% jam kerja dan proyeksi penurunan permintaan 31%.

  8. Seni, media, dan hiburan. Dari sekitar 1,9 juta pekerja, sebanyak 58% jam kerja berpotensi terdampak otomatisasi. Penurunan permintaan tenaga kerja diperkirakan 13%.

  9. Transportasi dan logistik. Kelompok ini memiliki sekitar 13,8 juta pekerja. Potensi otomatisasi mencapai 55% jam kerja, dengan penurunan permintaan tenaga kerja 30%.

  10. Instalasi dan perbaikan. Sekitar 6,1 juta pekerja berada di kelompok ini. Potensi otomatisasi disebut mencapai 54% jam kerja, sedangkan penurunan permintaan diperkirakan 15%.

Angka dalam daftar tersebut perlu dibaca sesuai definisi dan pengelompokan pada sumber asalnya. Dalam laporan primer McKinsey, misalnya, tingkat adopsi otomatisasi untuk kelompok administrasi dan dukungan perkantoran diperkirakan sekitar 80% jam kerja, sedangkan teknologi dan analitik sekitar 70% dan ritel serta penjualan 68%. Perbedaan angka dapat muncul akibat penggunaan kategori atau ukuran yang berbeda.  

Pekerjaan berubah, bukan selalu menghilang

Direktur McKinsey Global Institute Tanguy Catlin menekankan bahwa tingginya potensi otomatisasi tidak selalu berbanding lurus dengan berkurangnya jumlah pekerja. AI dapat mengambil alih sebagian aktivitas, tetapi pekerja masih dibutuhkan untuk tugas yang memerlukan penilaian, pertimbangan, dan interaksi manusia.

Bidang hukum menjadi salah satu contoh. Teknologi dapat membantu riset dan pengolahan dokumen, tetapi pekerjaan yang membutuhkan pertimbangan profesional tetap memerlukan keterlibatan manusia. Dalam kondisi seperti ini, profesi seseorang bisa tetap sama, sementara cara dan komposisi pekerjaannya berubah.

McKinsey juga membedakan kemampuan teknologi dari keputusan perusahaan untuk menggunakannya. Perusahaan perlu mempertimbangkan biaya, manfaat, risiko, dan kebutuhan operasional sebelum menerapkan otomatisasi secara luas.

Dengan demikian, angka pekerjaan yang berpotensi terdampak teknologi tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai jumlah orang yang pasti menganggur. Pertumbuhan permintaan di sektor lain dan perubahan tugas dalam profesi yang sama ikut menentukan hasil akhirnya.  

Beralih profesi menjadi tantangan berikutnya

Bagi pekerja yang harus berganti bidang, mendapatkan pekerjaan baru tidak selalu mudah. McKinsey memperkirakan hanya sekitar satu dari tujuh pekerja yang beralih profesi memiliki jalur langsung menuju pekerjaan baru, yakni pekerjaan yang keterampilannya relatif sesuai dan hanya membutuhkan sedikit atau tanpa pelatihan ulang.

Sebaliknya, hampir separuh pekerja diperkirakan menghadapi jalur yang lebih sulit. Mereka mungkin perlu mengikuti pelatihan secara signifikan, memperoleh sertifikasi baru, pindah tempat tinggal, atau menerima pekerjaan dengan tingkat upah yang lebih rendah.

Agar sekitar 11 juta pekerja dapat berpindah kelompok profesi dalam satu dekade, rata-rata sekitar 770.000 orang perlu melakukan transisi setiap tahun. Jumlah itu sekitar 3,6 kali rata-rata historis perpindahan antarkelompok pekerjaan di AS. 

Kondisi tersebut membuat pelatihan ulang menjadi bagian penting dari adaptasi pasar kerja. Perusahaan, pemerintah, dan lembaga pendidikan perlu membantu pekerja mengenali keterampilan yang dapat dialihkan ke bidang lain serta memenuhi persyaratan pekerjaan yang sedang tumbuh.

Bagi pekerja, kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, berkolaborasi, berpikir kritis, dan terus mempelajari keterampilan baru akan semakin penting. Keterampilan tersebut tidak menjamin seseorang terhindar dari perubahan, tetapi dapat memperluas pilihan ketika tuntutan pekerjaan bergeser.

Laporan McKinsey memperkirakan jumlah pekerjaan yang tersedia di AS pada 2035 dapat lebih besar dibandingkan saat ini. Namun, pertumbuhan itu tidak otomatis menjamin setiap pekerja yang terdampak dapat langsung mengisi posisi baru. Perbedaan keterampilan, lokasi, sertifikasi, dan tingkat upah dapat menjadi penghalang.

Karena itu, dampak AI terhadap dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak tugas yang bisa dikerjakan mesin. Keberhasilan adaptasi juga bergantung pada seberapa siap pekerja mendapatkan keterampilan baru dan seberapa mudah mereka menjangkau pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online