6.000 Anak Muda Terpilih Ikuti Samsung Innovation Campus Batch 8

Newswire
Newswire Rabu, 14 Oktober 2026 22:32 WIB
6.000 Anak Muda Terpilih Ikuti Samsung Innovation Campus Batch 8

Tim Lumyx, Best Team Kategori SMA Samsung Innovation Campus Batch 7.ist

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak 6.000 generasi muda terpilih mulai mempelajari dasar pemrograman melalui Samsung Innovation Campus (SIC) Batch 8. Mereka merupakan peserta terpilih dari total 14.806 pendaftar yang mengikuti Stage 1: Code Kick-Start – Python Programming pada 27 Agustus hingga 28 September 2026.

Program ini menjadi tahap awal bagi peserta untuk membangun keterampilan coding sekaligus mengembangkan pola pikir terstruktur. Kemampuan tersebut menjadi bekal untuk mempelajari teknologi yang lebih kompleks, termasuk Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Dalam tahap pertama, peserta mempelajari sejumlah konsep dasar pemrograman menggunakan bahasa Python. Materi yang diberikan meliputi variabel, tipe data, operator, pernyataan kondisional, perulangan, fungsi, hingga struktur data seperti lists dan dictionaries.

Pembelajaran berlangsung secara bertahap, mulai dari memahami konsep hingga menerapkannya melalui latihan coding. Peserta juga mendapatkan pendampingan teknis untuk membantu memahami materi dan mengatasi kendala selama proses belajar, termasuk kesalahan penulisan kode atau syntax error serta persoalan logika pemrograman.

AI Engineer sekaligus SIC Trainer, Rahmat Fajri, mengatakan kemampuan coding tidak sebatas menghafal sintaks atau aturan penulisan kode. Peserta juga perlu memahami fungsi setiap konsep dan cara menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.

“Yang paling penting dalam belajar coding bukan hanya memahami syntax, tetapi memahami kapan dan mengapa sebuah konsep digunakan. Peserta diajak untuk memahami bagaimana sebuah masalah dapat diterjemahkan menjadi logic, kemudian diwujudkan dalam bentuk code,” ujar Rahmat dikutip Kamis (14/10/2026)

Coding Jadi Bekal Mengembangkan Kemampuan Problem Solving

Melalui pembelajaran dasar pemrograman, peserta juga dilatih mengembangkan kemampuan problem solving dan computational thinking. Keterampilan ini membantu mereka memecah persoalan yang kompleks menjadi bagian-bagian lebih sederhana, mengenali pola, serta menyusun langkah penyelesaian secara sistematis.

Pendekatan project-based learning turut digunakan agar peserta dapat menerapkan materi yang telah dipelajari dalam sebuah proyek. Dengan cara ini, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat bagaimana variabel, kondisi, perulangan, dan fungsi dapat digunakan bersama untuk membangun sebuah solusi.

Kemampuan tersebut menjadi dasar sebelum peserta mempelajari teknologi yang lebih lanjut. Setelah memahami logika pemrograman, mereka akan diarahkan untuk mengeksplorasi IoT dan AI melalui tahapan pembelajaran berikutnya.

Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia, Anggi Paramita, mengatakan pembelajaran coding dapat membantu generasi muda membangun pola pikir yang terstruktur sekaligus mempersiapkan diri menghadapi perkembangan teknologi.

“Belajar coding bukan hanya tentang menulis kode, tetapi tentang belajar berpikir secara terstruktur. Peserta Samsung Innovation Campus mulai membangun cara berpikir tersebut sebagai bekal untuk memahami dan mengembangkan teknologi yang lebih kompleks ke depannya, mulai dari IoT hingga pemahaman AI. Kami berharap 6.000 peserta di Stage 1 dapat memanfaatkan proses pembelajaran ini untuk memperkuat kemampuan mereka, mengeksplorasi potensi teknologi, dan terus berkembang sepanjang perjalanan SIC Batch 8,” ungkap Anggi.

Samsung Juga Beri Kesempatan Pengajar Tingkatkan Kompetensi Digital

Pengembangan keterampilan teknologi melalui Samsung Innovation Campus tidak hanya menyasar generasi muda, tetapi juga tenaga pendidik. Lebih dari 500 guru dan dosen telah mengikuti program tersebut untuk memperluas pemahaman dan keterampilan di bidang teknologi.

Penguasaan dasar coding, computational thinking, serta pemahaman mengenai AI dan IoT dinilai semakin relevan bagi pengajar di tengah perkembangan teknologi digital. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung penerapan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan saat ini.

Melalui peningkatan kompetensi tenaga pendidik, pemahaman teknologi diharapkan tidak berhenti pada peserta program, tetapi juga dapat mendukung lingkungan pendidikan yang lebih siap menghadapi perubahan digital.

Setelah menyelesaikan Stage 1, peserta akan mengikuti proses seleksi untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Sebanyak 1.500 peserta akan masuk Stage 2: IoT-Device Hardware Discovery.

Selanjutnya, 700 peserta akan melanjutkan ke Stage 3: AI Crafting sebelum memasuki Stage 4: Final Integration dan rangkaian Final Judging.

Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran berjenjang yang membawa peserta dari pemahaman dasar pemrograman menuju pengembangan dan integrasi solusi berbasis teknologi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online