Advertisement

Tesla Alami Penurunan Pendapatan Pertama, Fokus Bisnis Bergeser ke AI

Jumali
Minggu, 01 Februari 2026 - 08:27 WIB
Jumali
Tesla Alami Penurunan Pendapatan Pertama, Fokus Bisnis Bergeser ke AI Seorang pria melihat Tesla Model S di showroom di Beijing, Tiongkok 29 Januari 2014. - Reuters

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Tesla mencatat sejarah baru seusai membukukan penurunan pendapatan tahunan untuk pertama kalinya sejak perusahaan berdiri. Laporan keuangan periode 2025 menunjukkan pendapatan Tesla turun 3 persen, disertai anjloknya laba kuartal IV hingga 61 persen, menandai fase transisi besar dalam arah bisnis perusahaan.

Penurunan kinerja keuangan tersebut diumumkan dalam laporan resmi yang dirilis awal Februari 2026. Meski demikian, respons pasar justru relatif positif, tercermin dari kenaikan saham Tesla sekitar 2 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, didorong optimisme investor terhadap perubahan strategi jangka panjang perusahaan.

Advertisement

Manajemen Tesla secara terbuka menyatakan pergeseran fokus bisnis dari produsen kendaraan listrik murni menjadi perusahaan berbasis kecerdasan buatan, robotika, dan layanan robotaxi. Transformasi ini diperkuat dengan keputusan menghentikan sepenuhnya produksi Model S dan Model X, dua lini kendaraan premium yang dinilai memiliki kontribusi terbatas terhadap volume penjualan global.

Seusai evaluasi menyeluruh, fasilitas produksi Tesla di California mulai dialihfungsikan secara bertahap untuk pengembangan robot humanoid Optimus. Proyek ini diposisikan sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan baru Tesla di tengah perlambatan permintaan kendaraan listrik global.

BBC mengungkapkan, untuk mendukung ambisi tersebut, Tesla melakukan investasi agresif dengan menyuntikkan dana sebesar US$2 miliar ke xAI, perusahaan rintisan kecerdasan buatan milik Elon Musk. Investasi ini tetap dijalankan meski sempat menuai penolakan dan aksi abstain dari sebagian besar pemegang saham. Selain itu, belanja modal Tesla diproyeksikan meningkat hingga US$20 miliar guna mempercepat pengembangan teknologi AI, robotaxi, dan infrastruktur pendukungnya.

Tekanan eksternal juga semakin membebani Tesla seusai posisi mereka sebagai produsen kendaraan listrik terbesar dunia disalip oleh perusahaan asal China, BYD. Persaingan ketat dari Asia tersebut diperparah dengan kontroversi politik yang melibatkan Elon Musk, termasuk keterlibatannya dalam pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang memicu reaksi negatif konsumen serta aksi protes di sejumlah diler Tesla di berbagai negara.

Di tengah situasi tersebut, Tesla dituntut menjaga performa penjualan Model 3 dan Model Y sebagai tulang punggung bisnis kendaraan listriknya. Keberhasilan dua model ini dinilai krusial untuk menopang arus kas perusahaan selama masa transisi menuju lini bisnis berbasis AI.

Masa depan Tesla kini sangat bergantung pada keberhasilan proyek Optimus dan robotaxi sebagai sumber pendapatan baru. Bersamaan dengan itu, pemegang saham telah menyetujui paket kompensasi jumbo bagi Elon Musk yang berpotensi mendekati US$1 triliun, dengan syarat peningkatan valuasi pasar Tesla secara signifikan dalam kurun sepuluh tahun ke depan. Transformasi ini menjadi titik balik penting seusai Tesla menghadapi fase paling menantang dalam sejarah bisnisnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis

Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis

News
| Minggu, 01 Februari 2026, 10:27 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement