Advertisement

Pasar Gelap Kepung Limbah Baterai EV China, Ancaman Ledakan Menguat

Jumali
Minggu, 01 Februari 2026 - 09:27 WIB
Jumali
Pasar Gelap Kepung Limbah Baterai EV China, Ancaman Ledakan Menguat Ilustrasi mobil listrik

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA— Upaya China membangun industri daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berkelanjutan menghadapi tantangan serius pada 2026. Sektor strategis ini justru didominasi praktik ilegal yang mengancam keselamatan publik sekaligus memperparah risiko pencemaran lingkungan. Jaringan pasar gelap baterai EV bekas dilaporkan beroperasi luas di luar sistem pengawasan resmi pemerintah.

Dilansir dari Carnews China, ada sekitar 75 persen baterai EV bekas di Negeri Tirai Bambu berakhir di bengkel daur ulang ilegal tanpa izin. Para pelaku pasar gelap mampu menawarkan harga beli jauh lebih tinggi dibandingkan industri resmi, dengan keuntungan mencapai sekitar 10.000 yuan atau setara Rp24 juta per kendaraan. Kondisi ini membuat pasokan baterai terus mengalir ke jalur ilegal, sementara perusahaan legal yang memiliki kapasitas daur ulang hingga 3,8 juta ton per tahun justru kekurangan bahan baku.

Advertisement

Proses pengolahan baterai di bengkel rahasia dilakukan secara manual di lokasi yang tidak memenuhi standar keselamatan. Tanpa alat pelindung diri memadai, sel baterai dengan kapasitas di atas 50 persen kerap hanya dilapisi ulang dan dijual kembali sebagai produk rekondisi. Praktik ini dinilai sangat berbahaya karena tidak melalui uji keamanan yang layak sebelum kembali beredar di pasar.

Sementara itu, sel baterai berkualitas rendah dihancurkan untuk mengekstraksi logam bernilai tinggi seperti lithium, nikel, dan kobalt menggunakan metode primitif. Seusai proses tersebut, sisa limbah kimia berbahaya kerap dibuang sembarangan sehingga mencemari tanah dan sumber air secara permanen. Dampak jangka panjangnya dinilai dapat memicu krisis lingkungan yang sulit dipulihkan.

Maraknya peredaran baterai rekondisi ilegal menjadi ancaman nyata bagi pengguna kendaraan listrik. Selain meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan, praktik ini juga menghambat terbentuknya sistem ekonomi sirkular yang terintegrasi. Pemerintah China menilai lonjakan limbah baterai EV di masa depan membutuhkan pengelolaan ketat agar tidak berubah menjadi bencana lingkungan berskala nasional.

Sebagai respons, pemerintah China menyiapkan regulasi baru bertajuk Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Waste Power Batteries yang dijadwalkan berlaku mulai April 2026. Aturan ini menitikberatkan pada sistem keterlacakan (traceability) dan pengawasan menyeluruh terhadap rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir. Keberhasilan kebijakan ini dinilai krusial untuk memutus mata rantai pasar gelap seusai pengelolaan limbah energi baru China memasuki fase kritis.

AspekBengkel Ilegal (Pasar Gelap)Industri Resmi (Legal)
Pangsa PasarMendominasi sekitar 75%Sekitar 25%
Metode KerjaManual, tanpa alat pelindung diriTeknologi tinggi & standar keselamatan
Dampak LingkunganPencemaran tanah, air, dan limbah B3Ramah lingkungan & terkendali
Risiko KeamananBahaya ledakan, kebakaran, dan racunTeruji dan terjamin
KeuntunganSangat tinggi, harga beli agresifTertekan biaya operasional

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis

Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis

News
| Minggu, 01 Februari 2026, 10:27 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement