Advertisement

Falcon 9 Ditangguhkan, Gangguan Teknis Ganggu Misi Starlink

Muhammad Diva Farel Ramadhan
Kamis, 05 Februari 2026 - 09:27 WIB
Sunartono
Falcon 9 Ditangguhkan, Gangguan Teknis Ganggu Misi Starlink Ilustrasi Starlink.Starlink - SpaceX

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Operasional roket Falcon 9 milik SpaceX dihentikan sementara menyusul ditemukannya gangguan teknis dalam misi peluncuran satelit Starlink. Penghentian ini dilakukan sambil menunggu hasil investigasi menyeluruh terhadap anomali yang terjadi pada tahap atas roket setelah peluncuran.

Insiden tersebut terjadi saat misi Starlink 17-32 diberangkatkan dari Pangkalan Angkatan Luar Angkasa Vandenberg. Dalam misi ini, sebanyak 25 satelit Starlink berhasil ditempatkan di orbit rendah Bumi (low Earth orbit/LEO). Namun, setelah pemisahan muatan, tahap kedua roket mengalami kondisi off-nominal yang tidak sesuai dengan parameter penerbangan normal.

Advertisement

Masalah teknis tersebut menyebabkan roket gagal menjalankan pembakaran deorbit, yakni manuver penting untuk membawa kembali komponen roket ke atmosfer Bumi agar dapat dimusnahkan secara terkendali. Akibat kegagalan ini, bagian roket kini berada di orbit yang tidak direncanakan meskipun sistem keselamatan otomatis telah diaktifkan.

Manajemen SpaceX menyatakan saat ini perusahaan memusatkan perhatian pada analisis mendalam terhadap data telemetri guna memastikan keamanan misi berikutnya sebelum Falcon 9 kembali dioperasikan.

“Tim sedang meninjau data untuk menentukan akar penyebab dan tindakan perbaikan sebelum kembali terbang,” tulis pernyataan resmi SpaceX melalui platform media sosial X yang dikutip Kamis (5/2/2026).

Penangguhan armada Falcon 9 ini menimbulkan ketidakpastian terhadap sejumlah agenda penerbangan, termasuk jadwal misi Crew-12 milik NASA yang direncanakan meluncur tidak lebih awal dari 11 Februari. Misi tersebut dinilai krusial karena bertujuan mengembalikan kapasitas awak Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) ke kondisi normal.

Saat ini, ISS hanya dioperasikan oleh kru minimal atau “kru kerangka” yang berjumlah tiga orang sejak 15 Januari. Kondisi ini terjadi setelah evakuasi medis mendadak yang memulangkan salah satu astronaut Crew-11 lebih awal. Awalnya, peluncuran Crew-12 dipercepat untuk menutup kekosongan awak tersebut.

Dalam insiden ini, Federal Aviation Administration (FAA) bertindak sebagai pihak utama yang memimpin investigasi. NASA memastikan keterlibatan tim Program Kru Komersial dalam proses penyelidikan guna mengevaluasi risiko sebelum memberikan persetujuan peluncuran bagi astronaut.

Associate Administrator NASA, Amit Kshatriya, menyampaikan bahwa pihaknya masih berupaya mengejar jendela peluncuran Crew-12 yang telah ditetapkan. Namun, keputusan akhir sepenuhnya bergantung pada hasil teknis investigasi.

“Kami terus mendorong menuju jendela peluncuran Crew-12. Namun, sekali lagi, hal itu akan bergantung pada alasan pengembalian ke penerbangan (return-to-flight rationale), di mana kami bermitra sangat erat dengan FAA dan SpaceX,” ujar Kshatriya dalam konferensi pers di Amerika Serikat, Selasa (3/2/2026).

Meski mengalami kegagalan fungsi, SpaceX memastikan bahwa kendaraan peluncur berhasil melakukan proses pasivasi, yakni pembuangan sisa bahan bakar guna mencegah potensi ledakan di orbit.

Melansir Space, Rabu (4/2/2026), astrofisikawan Jonathan McDowell menyebut manuver tersebut menurunkan ketinggian orbit roket hingga sekitar 110 kilometer, yang diperkirakan akan mempercepat proses masuk kembali ke atmosfer Bumi.

Sebagai informasi, Falcon 9 merupakan roket dengan tingkat frekuensi penerbangan tertinggi di dunia. Sepanjang 2025, roket ini mencatatkan rekor 165 kali peluncuran dengan tingkat keandalan yang sangat tinggi, di mana seluruh misi dinyatakan sukses.

Anomali besar terakhir terjadi pada Maret tahun lalu ketika tahap pertama Falcon 9 gagal mendarat dan hancur di laut akibat kebocoran bahan bakar. Pada kejadian tersebut, SpaceX hanya memerlukan waktu sekitar satu pekan untuk menyelesaikan investigasi sebelum kembali mengoperasikan armadanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kementan Perkuat AUTP Hadapi Risiko Iklim Awal 2026

Kementan Perkuat AUTP Hadapi Risiko Iklim Awal 2026

News
| Kamis, 05 Februari 2026, 10:47 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement