Advertisement
Penjualan Anjlok, Produsen Mobil China Andalkan Kredit Nol Persen
BYD Dolphin. - Harian Jogja - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Lesunya permintaan mobil di China pada awal 2026 memaksa produsen mengambil langkah agresif. Seusai mencatat penurunan penjualan ritel yang signifikan pada Januari, skema pembiayaan berbunga rendah hingga nyaris nol persen menjadi strategi utama untuk mempertahankan pangsa pasar.
Melansir Car News China, raksasa otomotif BYD melalui unit Ocean Network meluncurkan promosi besar sejak 25 Februari 2026. Perusahaan menawarkan pinjaman hingga tujuh tahun tanpa uang muka.
Advertisement
Untuk sejumlah model seperti BYD Seal, BYD Dolphin, dan BYD Seagull, konsumen bahkan bisa mencicil mulai 29 yuan atau sekitar Rp71 ribu per hari.
Langkah ini menyusul strategi serupa yang lebih dulu diperkenalkan oleh Tesla, Xiaomi, dan Nio. Submerek off-road BYD, Fangchengbao, juga menawarkan bunga mulai 1,5 persen untuk mendorong permintaan yang melemah.
BACA JUGA
Data Januari 2026 Mengkhawatirkan
Gelombang promosi tersebut menjadi respons terhadap data China Passenger Car Association (CPCA). Penjualan ritel mobil penumpang nasional pada Januari 2026 tercatat 1,544 juta unit, turun 13,9 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Sektor Kendaraan Energi Baru (NEV) pun terdampak. Penjualan mobil listrik (EV) dan plug-in hybrid merosot 20 persen secara tahunan dibanding Januari 2025. Situasi ini diperburuk oleh berakhirnya kebijakan pembebasan pajak pembelian NEV secara penuh pada akhir 2025.
Kinerja Produsen Beragam
Di tengah tekanan pasar, kinerja produsen menunjukkan variasi.
BYD mencatat volume grosir 205.500 unit, namun turun sekitar 30 persen secara tahunan.
Sementara itu, Geely tampil dominan dengan penjualan ritel mencapai 210.000 unit, melampaui para pesaingnya.
Pendatang baru seperti Xiaomi EV dan Leapmotor justru mencatat pertumbuhan positif. Pengiriman Xiaomi EV melonjak 70,34 persen menjadi 39.002 unit, sedangkan Leapmotor tumbuh 27,37 persen.
Analis industri menilai Januari memang cenderung fluktuatif karena faktor Tahun Baru Imlek serta transisi kebijakan insentif pajak. Untuk mengejar target kuartal pertama 2026, produsen diperkirakan terus mengandalkan pembiayaan murah agar minat beli tetap terjaga di tengah tekanan daya beli masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








