Advertisement
Klaim Membengkak, Biaya Perbaikan Kendaraan Listrik Jadi Tantangan
Mobil listrik Vinfast VF8 yang akan diekspor sedang diangkut ke kapal di Haiphong, Vietnam pada Jumat (25/11/2022). Bloomberg - Linh Pham
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Industri otomotif global menghadapi tantangan baru setelah laporan terbaru mencatat lonjakan tajam klaim perbaikan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) sepanjang 2025. Kondisi ini terbilang kontras karena pada saat yang sama, penjualan unit EV baru justru melambat di sejumlah pasar utama.
Berdasarkan data dari Mitchell, klaim perbaikan EV meningkat 14% di Amerika Serikat dan melonjak hingga 24% di Kanada. Tingginya angka Biaya Perbaikan Kendaraan Listrik 2025 ini mulai menekan margin perusahaan asuransi sekaligus menuntut kesiapan lebih dari bengkel spesialis.
Advertisement
Sementara itu, laporan Cox Automotive mencatat penjualan EV baru turun sekitar 2% setelah sejumlah insentif pajak berakhir dan sebagian konsumen beralih ke kendaraan hybrid. Meski penjualan melambat, populasi EV yang sudah beredar di jalan justru lebih sering terlibat insiden, sehingga memicu peningkatan klaim secara signifikan.
Eksekutif Mitchell, Ryan Mandell, menjelaskan arsitektur kelistrikan yang padat serta sistem berbasis perangkat lunak menjadi penyebab utama mahalnya biaya perbaikan. Kerusakan ringan pada bodi kendaraan kerap berdampak pada sensor yang saling terhubung, sehingga memerlukan proses diagnosis dan kalibrasi ulang yang kompleks.
BACA JUGA
“Komponennya dipenuhi sensor saling terhubung, sehingga kerusakan kecil sekalipun memerlukan proses diagnosa dan kalibrasi ulang yang memakan waktu serta biaya besar,” ujar Mandell. Hal tersebut membuat pengerjaan teknis EV jauh lebih kompleks dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE).
Dari sisi merek, Tesla masih mendominasi klaim perbaikan. Model Tesla Model Y dan Tesla Model 3 disebut mencakup lebih dari 50% total klaim EV di Amerika Utara. Meski rata-rata biaya perbaikan global turun tipis 5% menjadi US$6.395, angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan biaya servis mobil berbahan bakar bensin.
Ketergantungan pada suku cadang asli pabrikan (OEM) turut menjadi faktor utama. Sekitar 86% biaya perbaikan EV dialokasikan untuk komponen baru, sementara kendaraan ICE rata-rata hanya sekitar 62%. Selain itu, depresiasi nilai jual EV di Kanada dilaporkan mencapai 13%, dipicu kehadiran model baru yang lebih terjangkau.
Kondisi ini diperkirakan akan terus menjadi tantangan bagi industri asuransi dan bengkel perbaikan seiring kompleksitas teknologi otomotif yang kian meningkat. Pemilik kendaraan listrik pun disarankan lebih cermat memilih perlindungan asuransi agar tidak terbebani biaya perbaikan tinggi di tengah penurunan nilai jual kendaraan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Pajak dan BBM Meroket, Krisis Ekonomi Lebanon Ramadan 2026 Mencekik
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Taman Budaya Bantul Segera Dibangun Seusai Lebaran 2026
- DIY Miliki Ribuan Cagar Budaya, Masyarakat Diminta Ikut Menjaga
- Dana Desa Gunungkidul 2026 Bisa Dicairkan, Target Rampung Maret
- Teror BEM UGM Meluas ke Keluarga, Pakar Soroti Pola Terorganisasi
- Disdikpora Bantul Usulkan Revitalisasi SD dan SMP ke Pemerintah Pusat
Advertisement
Advertisement







