Advertisement

Sam Altman Minta Maaf, Kasus Penembakan Kanada Seret OpenAI

Newswire
Minggu, 26 April 2026 - 18:27 WIB
Abdul Hamied Razak
Sam Altman Minta Maaf, Kasus Penembakan Kanada Seret OpenAI CEO OpenAI Sam Altman saat menghadiri Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) CEO Summit di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada 16 November 2023. REUTERS - CARLOS BARRIA

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA— CEO OpenAI, Sam Altman, akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada publik setelah perusahaannya gagal melaporkan aktivitas mencurigakan di ChatGPT yang terkait dengan pelaku penembakan massal di Tumbler Ridge.

Advertisement

Permintaan maaf ini muncul menyusul tragedi penembakan pada Februari 2026 yang menewaskan sedikitnya delapan orang, termasuk anak-anak, serta melukai puluhan lainnya. 

Pelaku, Jesse Van Rootselaar (18), sebelumnya diketahui telah menggunakan ChatGPT untuk membahas skenario kekerasan. Aktivitas tersebut sempat terdeteksi oleh sistem internal OpenAI, bahkan memicu diskusi internal di antara karyawan terkait kemungkinan melaporkannya ke aparat. Namun, perusahaan memutuskan tidak meneruskan informasi tersebut karena dinilai belum memenuhi ambang ancaman yang “segera dan kredibel”. 

Sebagai langkah awal, OpenAI hanya memblokir akun pelaku pada Juni 2025 karena melanggar kebijakan penggunaan terkait konten kekerasan. 

Dalam surat yang dipublikasikan pada April 2026, Altman menyatakan penyesalan mendalam atas keputusan tersebut. Ia mengakui bahwa perusahaan seharusnya mengambil langkah lebih jauh dengan memberi tahu aparat penegak hukum sebelum tragedi terjadi.

“Saya sangat menyesal karena kami tidak memberi tahu aparat penegak hukum,” tulis Altman dalam suratnya kepada warga Tumbler Ridge. 

Altman juga mengungkapkan telah berkomunikasi langsung dengan Perdana Menteri British Columbia, David Eby, serta pejabat lokal setempat. Ia menegaskan bahwa permintaan maaf ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan.

Meski demikian, permintaan maaf tersebut menuai kritik. David Eby menilai langkah tersebut memang diperlukan, tetapi “tidak cukup” untuk menggambarkan besarnya kerugian yang dialami para korban dan keluarga mereka. 

Kasus ini juga memicu tekanan hukum terhadap OpenAI. Salah satu keluarga korban bahkan telah mengajukan gugatan, menuding perusahaan lalai karena tidak melaporkan tanda-tanda ancaman yang sudah terdeteksi sebelumnya. 

Di sisi lain, pemerintah Kanada mulai mendorong regulasi lebih ketat terhadap perusahaan teknologi, khususnya terkait tanggung jawab dalam mendeteksi dan melaporkan potensi ancaman kekerasan berbasis digital.

Menanggapi hal itu, Altman menegaskan komitmen OpenAI untuk memperkuat sistem keamanan dan meningkatkan kerja sama dengan pemerintah di berbagai negara. Perusahaan juga berjanji akan meninjau ulang standar pelaporan ancaman agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.

Tragedi ini menjadi titik balik penting dalam perdebatan global mengenai peran dan tanggung jawab perusahaan kecerdasan buatan, terutama dalam mencegah penyalahgunaan teknologi yang berpotensi membahayakan keselamatan publik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kebakaran Hutan di Iwate Jepang, Ribuan Warga Dievakuasi

Kebakaran Hutan di Iwate Jepang, Ribuan Warga Dievakuasi

News
| Minggu, 26 April 2026, 19:27 WIB

Advertisement

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Libur Iduladha 2026 Bisa Jadi 6 Hari

Wisata
| Jum'at, 24 April 2026, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement