Main Medsos Lebih dari 2,5 Jam, Risiko Depresi Ikut Meningkat

Jumali
Jumali Sabtu, 29 Agustus 2026 20:37 WIB
Main Medsos Lebih dari 2,5 Jam, Risiko Depresi Ikut Meningkat

Logo Meta. Ist

Harianjogja.com, JOGJA—Menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial setiap hari mungkin bukan sekadar membuat waktu berlalu tanpa terasa. Studi yang diterbitkan dalam jurnal npj Mental Health Research menemukan hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan depresi, dengan pola tersebut semakin terlihat setelah penggunaan mencapai sekitar 150 menit atau 2,5 jam per hari.

Temuan itu berasal dari analisis terhadap data survei sekitar 183.000 orang dewasa di Amerika Serikat yang dikumpulkan selama 11 tahun.

Penelitian dilakukan oleh peneliti dari University of Cincinnati dan Northwestern University menggunakan data Media Behaviors and Influence Study selama periode 2014 hingga 2024.

Para peneliti menganalisis kebiasaan penggunaan berbagai jenis media sekaligus kondisi kesehatan mental responden. Mereka menanyakan penggunaan media sosial, aktivitas seperti bermain gim dan menonton televisi, serta perasaan sedih dan gejala depresi yang dilaporkan responden.

Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan model pembelajaran mesin untuk mencari pola yang berkaitan dengan tingkat depresi.

Hubungan Mulai Terlihat Setelah 2,5 Jam

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan media sosial dalam durasi lebih rendah tidak langsung muncul sebagai prediktor kuat terhadap depresi.

Pola hubungan tersebut mulai terlihat ketika seseorang menghabiskan sekitar 150 menit atau 2,5 jam setiap hari di media sosial.

Setelah melewati durasi tersebut, semakin lama seseorang menggunakan media sosial berkaitan dengan semakin tingginya kemungkinan melaporkan gejala depresi.

Peneliti memperkirakan setiap tambahan satu jam penggunaan setelah ambang tersebut berkaitan dengan peningkatan sekitar 17% kemungkinan depresi yang dilaporkan sendiri.

Hubungan tersebut tetap terlihat setelah peneliti memperhitungkan sejumlah faktor, termasuk usia, pendapatan, tingkat pendidikan, dan jenis kelamin.

Pola yang sama juga ditemukan sepanjang periode penelitian. Bahkan setelah data yang berasal dari sekitar masa pandemi Covid-19 dikeluarkan dari analisis, hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan depresi tetap terlihat.

Cara Orang Menggunakan Medsos Ikut Berubah

Peneliti senior University of Cincinnati sekaligus salah satu penulis studi, Nicole Vike, menilai cara masyarakat menggunakan media sosial telah mengalami perubahan.

"Pada awalnya, media sosial merupakan sarana sosial untuk berinteraksi dengan orang-orang yang dikenal. Sekarang, penggunaan media sosial lebih banyak berkaitan dengan mengonsumsi konten dari orang-orang yang tidak dikenal," ujar Vike dalam pernyataan University of Cincinnati.

Menurut dia, perubahan tersebut penting diperhatikan karena penggunaan media sosial saat ini tidak selalu berupa interaksi dengan teman atau orang yang dikenal.

Aktivitas di platform digital juga semakin banyak diisi dengan konsumsi konten secara terus-menerus. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang menghabiskan waktu lebih lama di dunia maya tanpa menyadari durasinya.

Vike juga menyoroti sulitnya mengendalikan penggunaan media sosial bagi sebagian orang.

"Lihat saja para kreator konten yang terus-menerus berada di dunia maya. Mereka sering kali harus mengambil jeda selama berbulan-bulan dari dunia daring demi kesehatan mental mereka," kata Vike.

Bukan Berarti Medsos Terbukti Menyebabkan Depresi

Meski menemukan pola yang konsisten, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa penggunaan media sosial secara langsung menyebabkan depresi.

Para peneliti menekankan bahwa hasil studi menunjukkan korelasi atau hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan depresi.

Artinya, belum dapat dipastikan arah hubungannya. Penggunaan media sosial yang lebih lama mungkin berkaitan dengan kondisi kesehatan mental, tetapi ada kemungkinan pula orang yang sudah mengalami masalah kesehatan mental lebih banyak menggunakan media sosial.

Penelitian tersebut juga memiliki sejumlah keterbatasan.

Salah satunya, peneliti tidak mengikuti individu yang sama secara langsung dari waktu ke waktu untuk melihat perubahan kebiasaan penggunaan media sosial dan kondisi depresinya.

Selain itu, kategori penggunaan media sosial dalam penelitian tidak dibedakan berdasarkan aktivitas yang dilakukan.

Penelitian tersebut, misalnya, tidak secara khusus memisahkan aktivitas menggulir konten tanpa tujuan dengan penggunaan media sosial untuk berinteraksi bersama teman.

Martin Block, penulis utama sekaligus profesor emeritus di Northwestern University, mengatakan temuan tersebut menjadi pengingat untuk memperhatikan dampak penggunaan media sosial.

"Media sosial memiliki dampak negatif penting melalui hubungannya dengan depresi, sama seperti mobil berkaitan dengan cedera akibat kecelakaan dan polusi," tutur Block.

Durasi 2,5 Jam Bukan Batas Aman untuk Semua Orang

Temuan penelitian ini tidak berarti bahwa penggunaan media sosial selama kurang dari 2,5 jam sehari otomatis aman dari masalah kesehatan mental.

Sebaliknya, angka tersebut merupakan titik ketika peneliti mulai melihat hubungan yang lebih kuat antara durasi penggunaan media sosial dan depresi dalam data yang mereka analisis.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya jumlah waktu yang dihabiskan di media sosial, tetapi juga bagaimana kebiasaan tersebut memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Jika penggunaan media sosial mulai mengganggu waktu tidur, pekerjaan, belajar, interaksi langsung, atau suasana hati, kebiasaan tersebut layak dievaluasi.

Studi ini memberikan gambaran mengenai pola pada populasi besar, tetapi tidak menetapkan batas penggunaan media sosial yang pasti aman bagi setiap orang. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memahami bagaimana jenis aktivitas di media sosial, pola penggunaan, serta kondisi individu dapat memengaruhi kesehatan mental.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online