Nokia Tak Lagi Jual Smartphone, Tapi Tetap Raup Uang dari Industri Ponsel

Jumali
Jumali Sabtu, 26 September 2026 18:57 WIB
Nokia Tak Lagi Jual Smartphone, Tapi Tetap Raup Uang dari Industri Ponsel

Foto ilustrasi pabrik ponsel pintar. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Nokia sudah lama meninggalkan bisnis ponsel sebagai produsen, tetapi perusahaan asal Finlandia itu masih memperoleh pendapatan dari industri yang pernah membesarkan namanya.

Kuncinya bukan lagi pada penjualan perangkat, melainkan lisensi merek dan paten.

Perubahan model bisnis tersebut berawal dari penjualan sebagian besar bisnis perangkat dan layanan Nokia kepada Microsoft pada 2014. Nokia mempertahankan portofolio paten serta bisnis jaringan, sementara Microsoft mengambil alih bisnis perangkat yang selama bertahun-tahun menjadi wajah utama perusahaan.

Kesepakatan itu kemudian menjadi salah satu contoh bagaimana Nokia mengubah sumber pendapatannya dari produksi perangkat menjadi pengelolaan kekayaan intelektual.

Microsoft Gagal Menghidupkan Kembali Bisnis Nokia

Microsoft mengakuisisi bisnis Devices and Services Nokia pada 2014. Setelah transaksi tersebut, sekitar 25.000 karyawan Nokia pindah ke Microsoft, sementara Nokia Corporation tetap mempertahankan bisnis lain, termasuk jaringan dan portofolio patennya.

Langkah Microsoft untuk memperbesar bisnis ponsel melalui Nokia ternyata tidak bertahan lama. Pada 2015, Microsoft mencatat impairment charge sekitar US$7,6 miliar yang berkaitan dengan akuisisi bisnis ponsel Nokia.

Pada akhirnya, Microsoft mengurangi aktivitasnya di bisnis ponsel dan kemudian melepas aset yang tersisa.

Bagi Nokia, keluarnya dari bisnis manufaktur justru membuat perusahaan dapat lebih fokus pada aset yang tidak membutuhkan pabrik dan rantai pasok perangkat, yakni teknologi serta kekayaan intelektual.

HMD Kemudian Menghidupkan Merek Nokia

Babak berikutnya dimulai pada 2016. Nokia menandatangani kesepakatan strategis dengan HMD Global yang memberikan perusahaan asal Finlandia tersebut lisensi eksklusif global untuk membuat ponsel dan tablet bermerek Nokia selama 10 tahun.

Perjanjian itu mulai berlaku pada 1 Desember 2016. Nokia memperoleh pembayaran royalti dari perangkat bermerek Nokia yang dijual HMD, mencakup lisensi merek dan kekayaan intelektual.

Dalam model tersebut, HMD menangani pengembangan dan pemasaran perangkat, sementara produksi dilakukan melalui mitra manufaktur, termasuk Foxconn/FIH. Dengan demikian, Nokia tidak perlu kembali membangun bisnis manufaktur ponsel seperti era sebelum Microsoft.

Model lisensi ini membuat Nokia tetap memperoleh manfaat ekonomi dari merek dan teknologinya tanpa harus menanggung seluruh biaya produksi perangkat.

Uang Besar Justru Datang dari Paten

Jika lisensi merek menjadi salah satu sumber pendapatan, aset yang jauh lebih penting bagi Nokia adalah portofolio patennya.

Nokia saat ini menyebut memiliki sekitar 26.000 keluarga paten, termasuk lebih dari 8.000 keluarga paten yang dinyatakan esensial bagi standar 5G. Perusahaan mengatakan telah menginvestasikan sekitar €160 miliar untuk penelitian dan pengembangan sejak 2000.

Paten tersebut mencakup teknologi komunikasi seluler dari berbagai generasi. Karena teknologi Nokia digunakan dalam standar komunikasi yang diterapkan banyak perangkat, perusahaan dapat memperoleh pembayaran lisensi dari produsen yang menggunakan teknologi tersebut.

Artinya, nilai ekonominya tidak bergantung pada apakah Nokia sendiri memproduksi smartphone.

Nokia juga menjalankan program lisensi di luar perangkat seluler. Portofolio patennya digunakan untuk berbagai sektor, termasuk elektronik konsumen, Internet of Things (IoT), video, dan otomotif.

HMD Beralih ke Merek Sendiri

Hubungan Nokia dengan HMD juga mengalami perubahan.

Pada 2023, Nokia dan HMD mengubah kesepakatan sehingga lisensi eksklusif HMD untuk membuat perangkat bermerek Nokia berakhir pada Maret 2026. Pada saat yang sama, HMD mulai menjalankan strategi multibrand.

HMD secara terbuka memperkenalkan perangkat dengan mereknya sendiri pada 2024, sembari tetap menjual sejumlah perangkat Nokia.

Perubahan itu menandai pergeseran posisi Nokia dalam bisnis perangkat konsumen. Nokia tidak lagi menjadi produsen smartphone, sementara HMD secara bertahap membangun identitasnya sendiri.

Namun, berakhirnya lisensi eksklusif smartphone tidak berarti seluruh perangkat bermerek Nokia langsung menghilang.

Pada 2025, Nokia dan HMD dilaporkan memperpanjang lisensi untuk feature phone sekitar dua hingga tiga tahun setelah batas 2026. Dokumen Nokia yang diajukan ke regulator AS menyebut perpanjangan tersebut berlaku untuk sejumlah negara hingga Maret 2029.

Nokia Masih Mendapat Uang dari Teknologi Ponsel

Perjalanan Nokia menunjukkan perubahan drastis dalam cara perusahaan memperoleh uang dari industri ponsel.

Dulu, pendapatan Nokia sangat bergantung pada produksi dan penjualan handset. Kini, perusahaan lebih banyak memanfaatkan teknologi yang telah dikembangkan selama puluhan tahun melalui lisensi paten dan kekayaan intelektual.

Bahkan ketika merek Nokia tidak lagi menjadi pemain utama di pasar smartphone, teknologi yang dikembangkan perusahaan tetap digunakan dalam ekosistem komunikasi modern.

Nokia menyatakan portofolio patennya mencakup teknologi seluler 2G, 3G, 4G, dan 5G, serta berbagai teknologi Wi-Fi dan konektivitas lainnya.

Jadi, Nokia tidak harus menjual smartphone sendiri untuk tetap memperoleh pendapatan dari industri ponsel. Yang dijual bukan lagi ponselnya, melainkan hak untuk menggunakan merek dan teknologi yang berada di balik perangkat tersebut.

Perubahan itu menjadi salah satu contoh bagaimana perusahaan teknologi dapat mengubah aset manufaktur menjadi bisnis berbasis kekayaan intelektual dan lisensi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online