Apple Kuasai 50 Persen Pendapatan Smartphone Dunia, Samsung Menyusul

Jumali
Jumali Jum'at, 06 November 2026 13:47 WIB
Apple Kuasai 50 Persen Pendapatan Smartphone Dunia, Samsung Menyusul

Tampilan belakang iPhone 18 Pro. Raksasa teknologi asal Cupertino, Apple Inc., resmi meluncurkan lini smartphone generasi terbarunya, iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, dalam helatan akbar bertajuk Surprise and Shine pada Kamis (10/9/2026)./Bisnis Indonesia\r\n

Harianjogja.com, JOGJA—Apple menguasai separuh pendapatan pasar smartphone global pada kuartal III-2026 atau periode Juli-September. Capaian tersebut menunjukkan kuatnya posisi perusahaan asal Amerika Serikat itu di segmen ponsel premium, meskipun persaingan industri berlangsung di tengah penurunan jumlah pengiriman perangkat.

Berdasarkan laporan Counterpoint Research yang dirilis 3 November 2026, Apple memperoleh pangsa pendapatan sebesar 50% dari total pasar smartphone dunia. Samsung berada di urutan kedua dengan kontribusi 19%, disusul Xiaomi sebesar 6%, Oppo 5%, dan Vivo 4%.

Data tersebut dihitung berdasarkan revenue share atau pangsa pendapatan, bukan jumlah unit smartphone yang dikirimkan ke pasar. Karena itu, perusahaan yang memperoleh pendapatan terbesar belum tentu menjadi vendor dengan jumlah pengiriman ponsel terbanyak.

Perbedaan itu terlihat pada posisi Samsung. Meski berada di urutan kedua dalam kontribusi pendapatan, perusahaan asal Korea Selatan tersebut masih menjadi pemimpin pengiriman smartphone global dengan pangsa 22%. Apple berada di belakangnya dengan pangsa pengiriman 21%.

Laporan Counterpoint juga memperlihatkan kondisi industri yang cukup kontras. Pendapatan pasar smartphone global mencapai US$114 miliar atau sekitar Rp2.066 triliun dengan asumsi kurs Rp18.123 per dolar AS, meningkat 3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, jumlah pengiriman perangkat justru merosot 19% secara tahunan. Kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) menjadi faktor yang membantu industri mempertahankan pertumbuhan pendapatan.

Apple Raih Separuh Pendapatan Smartphone Global

Apple menjadi merek dengan kontribusi pendapatan terbesar setelah mencatatkan pangsa 50% pada kuartal III-2026. Pendapatan bisnis smartphone perusahaan meningkat 17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Capaian tersebut sekaligus menjadi pendapatan tertinggi Apple untuk kuartal ketiga dalam sejarah perusahaan. Kinerja itu didukung permintaan iPhone 17 Series yang tetap kuat serta respons awal pasar terhadap iPhone 18 Pro Series.

Direktur Riset Counterpoint, Tarun Pathak, menilai Apple menjadi salah satu merek besar yang paling mampu bertahan di tengah kondisi pasar yang menantang. Perusahaan dinilai memiliki kekuatan harga untuk meneruskan kenaikan biaya komponen kepada konsumen tanpa terlalu mengganggu permintaan.

Harga jual rata-rata iPhone juga meningkat 19% secara tahunan menjadi US$1.031 atau sekitar Rp18,69 juta dengan asumsi kurs yang sama. Kenaikan tersebut dipengaruhi harga peluncuran iPhone 18 Pro Series yang lebih tinggi, penyesuaian harga sejumlah model lama, serta komposisi penjualan yang lebih banyak ditopang perangkat premium.

Sementara itu, pengiriman iPhone secara global relatif stabil dibandingkan kuartal III-2025. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan pendapatan Apple tidak semata-mata berasal dari peningkatan jumlah perangkat yang dikirimkan, tetapi juga dari kenaikan nilai jual rata-rata.

Samsung Pertahankan Posisi Kedua

Samsung menempati urutan kedua dengan pangsa pendapatan 19%. Pendapatan bisnis smartphone perusahaan meningkat 14% secara tahunan.

ASP Samsung naik 21% menjadi US$367 atau sekitar Rp6,65 juta. Peningkatan tersebut didukung penyesuaian harga pada lini Galaxy A serta kontribusi lebih besar dari perangkat premium, termasuk Galaxy S26 Ultra dan Galaxy Z Fold8.

Permintaan awal terhadap Galaxy Z Fold8 turut memperkuat komposisi penjualan produk kelas atas. Selain itu, rantai pasokan Samsung yang terintegrasi membantu perusahaan menghadapi kenaikan biaya komponen memori.

Di sisi pengiriman, Samsung masih memimpin pasar dengan pangsa 22%. Posisi tersebut menegaskan bahwa perusahaan tidak hanya mampu menjaga pendapatan, tetapi juga mempertahankan jangkauan penjualan perangkat secara global.

Xiaomi Bertahan, Oppo dan Vivo Tertekan

Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa pendapatan 6%. Pendapatan perusahaan tercatat stagnan dibandingkan kuartal III-2025, meskipun ASP meningkat dua digit.

Kenaikan harga jual rata-rata membantu Xiaomi mengimbangi penurunan volume pengiriman. Perusahaan juga mulai menggeser portofolio produknya dari segmen pemula menuju kelas menengah dan menengah atas.

Model dengan nilai jual lebih tinggi, seperti Redmi Note 15 Series dan Xiaomi 17T, turut mendukung peningkatan ASP di pasar utama Xiaomi. Strategi tersebut menjadi salah satu upaya perusahaan menjaga pendapatan di tengah kenaikan biaya komponen.

Berbeda dengan Xiaomi, Oppo mengalami penurunan pendapatan sebesar 26% secara tahunan. Perusahaan menempati posisi keempat dengan pangsa pendapatan 5%.

Meski pendapatannya turun, ASP Oppo meningkat dari US$221 menjadi US$267. Counterpoint menilai penurunan pengiriman yang lebih besar dibandingkan kenaikan harga jual menjadi penyebab utama melemahnya pendapatan.

Oppo juga mulai mengutamakan keuntungan dibandingkan mengejar volume penjualan. Perusahaan mengurangi aktivitas di pasar yang bukan menjadi fokus utama dan lebih mengandalkan produk unggulan.

Vivo melengkapi lima besar dengan pangsa pendapatan 4%. Namun, pendapatan perusahaan turun 22% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

ASP Vivo meningkat dari US$220 menjadi US$258. Kenaikan tersebut terutama ditopang perangkat kelas menengah atas dan premium, termasuk Vivo S60 5G, V70, serta X300 Series.

Seperti Oppo, Vivo juga lebih memprioritaskan produk unggulan untuk memperkuat posisi merek dan menjaga pendapatan. Strategi tersebut dilakukan ketika penurunan jumlah pengiriman lebih besar daripada manfaat kenaikan harga jual rata-rata.

Harga Smartphone Diperkirakan Terus Tertekan

Secara keseluruhan, rata-rata harga jual smartphone global meningkat 27% menjadi US$442 atau sekitar Rp8,01 juta. Angka tersebut menjadi ASP tertinggi yang pernah dicatat dalam satu kuartal oleh Counterpoint.

Kenaikan harga jual rata-rata didorong meningkatnya kontribusi perangkat premium, perubahan komposisi produk, serta kenaikan biaya komponen memori. Namun, pertumbuhan pendapatan tidak otomatis berarti keuntungan produsen ikut meningkat karena biaya produksi juga mengalami tekanan.

Counterpoint memperkirakan pendapatan industri smartphone global berpotensi turun pada kuartal IV-2026. Penurunan pengiriman diperkirakan lebih besar daripada kenaikan ASP sehingga tidak lagi mampu menopang pertumbuhan pendapatan.

Meski demikian, kenaikan ASP selama tiga kuartal pertama diperkirakan masih membuat pendapatan industri sepanjang 2026 lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Tekanan biaya diperkirakan berlanjut pada 2027. Harga komponen memori yang masih tinggi dapat mendorong produsen kembali menaikkan harga perangkat sekaligus menekan margin keuntungan.

Pengiriman smartphone global juga diperkirakan kembali menurun, meskipun dengan laju lebih lambat dibandingkan 2026. Sementara itu, kenaikan ASP diproyeksikan membuat pertumbuhan pendapatan industri pada 2027 lebih tinggi daripada tahun sebelumnya.

Counterpoint memperkirakan tekanan biaya komponen baru mulai mereda pada 2028. Namun, penghematan yang diperoleh produsen kemungkinan digunakan untuk meningkatkan spesifikasi perangkat, bukan menurunkan harga jual kepada konsumen.

Bagi konsumen, kondisi tersebut berarti harga smartphone belum tentu segera turun meskipun biaya komponen mulai membaik. Produsen berpeluang lebih memilih menghadirkan peningkatan spesifikasi untuk mempertahankan daya saing produk.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online