Kaspersky: Serangan Seluler Makin Gigih, Indonesia 15.163 Deteksi

Jumali
Jumali Sabtu, 03 Oktober 2026 10:57 WIB
Kaspersky: Serangan Seluler Makin Gigih, Indonesia 15.163 Deteksi

Ilustrasi serangan siber./Sputniknews

Harianjogja.com, JOGJA— Ancaman seluler di kawasan Asia Pasifik (APAC) semakin terkonsentrasi pada kelompok pengguna yang lebih sedikit, tetapi dengan frekuensi serangan yang lebih tinggi. Data Kaspersky menunjukkan rata-rata deteksi ancaman per pengguna yang terdampak meningkat 49% secara tahunan pada kuartal I/2026, dari 4,9 menjadi 7,3 deteksi.

Perubahan pola tersebut terjadi ketika jumlah pengguna yang menghadapi ancaman seluler secara keseluruhan justru menurun di sejumlah pasar. Kondisi itu menunjukkan bahwa pelaku serangan tidak hanya mengejar jumlah korban sebanyak mungkin, tetapi juga meningkatkan frekuensi serangan terhadap pengguna yang telah menjadi sasaran.

Kaspersky menganalisis delapan pasar APAC dalam data kuartal I/2026. Indonesia termasuk negara dengan jumlah deteksi tertinggi, yakni 15.163 kasus, berada di bawah India yang mencatat 18.187 deteksi.

Indonesia Masuk Dua Besar Volume Deteksi

Angka tersebut membuat Indonesia menjadi salah satu pasar dengan volume ancaman seluler terbesar di kawasan. China mencatat 6.797 deteksi, sedangkan Filipina mencapai 2.011 kasus dan Bangladesh 1.859 kasus.

Di Thailand, jumlah deteksi meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 2.494 kasus. Karena jumlah pengguna yang terdampak turun, rata-rata deteksi per pengguna meningkat dari 3 menjadi 11,9 kasus.

Sri Lanka mencatat perubahan yang lebih tinggi dari sisi pertumbuhan deteksi. Jumlah ancaman yang terdeteksi mencapai 922 kasus atau naik 132% secara tahunan, sementara rata-rata deteksi per pengguna terdampak meningkat dari 5,5 menjadi 17,4 kasus.

Bangladesh juga mengalami kenaikan 108% menjadi 1.859 deteksi. Sementara itu, deteksi di Filipina meningkat 28% menjadi 2.011 kasus dan China mencapai 6.797 deteksi, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Dalam delapan pasar yang dianalisis, China dan Bangladesh menjadi dua negara yang mencatat kenaikan sekaligus pada jumlah deteksi dan jumlah pengguna yang terdampak.

Phishing Meluas ke Pesan dan Media Sosial

Kaspersky mencatat penipuan berbasis perangkat seluler tidak lagi mengandalkan satu jalur distribusi. Tautan phishing dapat disebarkan melalui SMS, aplikasi pesan, media sosial, iklan berbahaya, tawaran pekerjaan palsu, pembagian aset kripto, hingga promosi digital.

Pelaku juga memanfaatkan domain palsu dan typosquatting, yakni membuat alamat situs yang menyerupai domain resmi. Cara tersebut dirancang agar pengguna sulit membedakan situs asli dan situs yang dibuat untuk mencuri kredensial atau data pribadi.

Akun aplikasi pesan yang telah diretas juga dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan tautan berbahaya. Pesan tersebut terlihat seolah-olah berasal dari orang yang sudah dikenal korban sehingga peluang pesan dibuka menjadi lebih besar.

Kredensial aplikasi pesan dan portal layanan pemerintah menjadi salah satu sasaran yang bernilai bagi pelaku. Akses tersebut dapat dimanfaatkan untuk pencurian identitas, penipuan lanjutan, atau mengambil alih akun digital lain.

AI Membuat Penipuan Lebih Sulit Dikenali

Kecerdasan buatan atau AI turut memperkuat teknik rekayasa sosial. Dalam riset Kaspersky bertajuk The Great Messaging Heist, sebanyak 66% korban meyakini AI digunakan dalam penipuan yang mereka alami.

Dari kelompok tersebut, 42% menyebut menemukan pesan yang dibuat dengan AI, 31% melaporkan penggunaan suara yang dibuat atau dikloning, sedangkan 25% menghadapi gambar atau video deepfake.

Teknologi tersebut memungkinkan pelaku membuat komunikasi yang lebih menyerupai pesan dari keluarga, perusahaan, bank, layanan pengiriman, atau pihak lain yang dipercaya pengguna. Dengan format dan bahasa yang semakin natural, tanda-tanda penipuan yang sebelumnya mudah dikenali menjadi lebih sulit ditemukan.

Kecepatan juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Kaspersky menemukan 52% penipuan berbasis pesan yang berhasil berlangsung hingga korban menyerahkan uang atau data pribadi dalam waktu kurang dari 30 menit sejak kontak pertama. 

Malware Tetap Menjadi Ancaman

Selain penipuan berbasis rekayasa sosial, malware masih menjadi bagian penting dari ancaman terhadap perangkat seluler. Kaspersky mencatat Rewardsteal masih aktif di India dengan menyamarkan diri sebagai aplikasi hadiah atau giveaway untuk mencuri informasi sensitif.

Trojan Thamera juga kembali terdeteksi. Malware tersebut dapat membajak perangkat dan menggunakannya untuk membuat akun media sosial palsu dalam jumlah besar.

Ancaman lain bahkan dapat bekerja dengan interaksi pengguna yang sangat minim. Dalam sejumlah kasus, pengguna dapat terpapar konten berbahaya ketika mengakses halaman web yang telah disusupi, sementara serangan bertahap dapat dimulai dari file, tautan, atau pesan yang pada awalnya terlihat tidak berbahaya.

Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel Asia Pasifik di Kaspersky, mengatakan pelaku kini menggabungkan teknik serangan yang sulit terlihat, malware yang bertahan di perangkat, dan penipuan yang memanfaatkan AI.

“Across APAC, mobile threats are becoming increasingly sophisticated, with cybercriminals combining stealthy attack techniques, persistent malware and AI-powered deception to target consumers,” ujar Choon Hong Chee.

Cara Mengurangi Risiko Serangan Seluler

Bagi pengguna ponsel, perubahan pola serangan tersebut membuat pemeriksaan sebelum membuka tautan atau memasang aplikasi menjadi semakin penting. Kaspersky menyarankan pengguna memastikan aplikasi dan tautan berasal dari sumber yang tepercaya sebelum berinteraksi dengannya.

Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap tawaran hadiah, cashback, promosi, atau keuntungan finansial yang terlalu menarik. Izin aplikasi perlu diperiksa dan hanya akses yang benar-benar dibutuhkan yang diberikan.

Autentikasi multifaktor atau MFA dapat diaktifkan pada akun digital, terutama akun yang menyimpan informasi pribadi dan memiliki akses ke layanan penting. Sistem operasi serta aplikasi juga perlu diperbarui untuk mengurangi risiko dari celah keamanan yang telah diperbaiki melalui pembaruan.

Kaspersky turut menyarankan penggunaan solusi keamanan seluler tepercaya yang mampu mendeteksi ancaman secara waktu nyata. Bagi pengguna di Indonesia, angka 15.163 deteksi pada kuartal I/2026 menjadi salah satu indikator bahwa keamanan perangkat seluler perlu diperhatikan seiring semakin banyaknya aktivitas sehari-hari yang dilakukan melalui ponsel.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online