Google Uji Pusat Data AI di Luar Angkasa, Bawa 4 Chip TPU

Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari Minggu, 04 Oktober 2026 21:47 WIB
Google Uji Pusat Data AI di Luar Angkasa, Bawa 4 Chip TPU

Kantor Google - ist/techcrunch

Harianjogja.com, JAKARTA—Google mulai menguji kemungkinan menjalankan pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa. Eksperimen Project Suncatcher itu dimulai dengan peluncuran satelit prototipe yang membawa empat chip Tensor Processing Unit (TPU) untuk diuji dalam kondisi orbit.

Melansir laman NPR pada Minggu (4/10/2026), satelit tersebut berukuran sekitar lemari pendingin dan menjadi bagian dari proyek penelitian Google untuk mengetahui kemampuan chip serta teknologi komputasi beroperasi di lingkungan luar angkasa.

Empat TPU yang dibawa satelit merupakan chip khusus yang dikembangkan Google untuk menjalankan beban kerja machine learning. Chip tersebut sebelumnya telah digunakan pada pusat data di Bumi.

TPU Google diuji di orbit

Google akan menjalankan model AI Gemma pada TPU yang berada di satelit tersebut selama sekitar 15 menit dalam satu sesi. Waktu pengoperasian itu dibatasi oleh kemampuan sistem dalam mengelola panas yang dihasilkan chip.

Pengujian dilakukan untuk mengetahui kemampuan TPU menghadapi kondisi ekstrem di luar angkasa. Kondisi yang diuji mencakup tekanan selama penerbangan, radiasi, serta perubahan suhu.

Satelit eksperimental tersebut dikembangkan Google bersama Planet, perusahaan kedirgantaraan dan pencitraan satelit. Satelit diluncurkan menggunakan roket SpaceX dan setelah berada di orbit akan dioperasikan oleh Planet.

Google kemudian akan mengaktifkan serta menguji TPU yang dibawa satelit tersebut. Misi ini ditargetkan beroperasi selama sekitar satu tahun.

Rencana pusat data AI di orbit

Eksperimen tersebut merupakan tahap awal dari rencana Google membangun pusat data AI di luar angkasa. Dalam konsep Project Suncatcher, satelit-satelit nantinya ditempatkan dalam satu kelompok di orbit dan bekerja sebagai pusat data.

Setiap satelit direncanakan membawa puluhan TPU. Satelit-satelit tersebut juga akan saling berkomunikasi serta terhubung dengan Bumi menggunakan teknologi laser.

Untuk menguji koneksi tersebut, Google berencana meluncurkan dua satelit tambahan pada tahun depan.

Pengembangan konsep itu berlangsung ketika kebutuhan komputasi meningkat seiring pertumbuhan penggunaan AI. Kondisi tersebut mendorong perusahaan teknologi memperluas kapasitas pusat data sekaligus meningkatkan investasi pada infrastruktur komputasi dan chip.

CEO Google Sundar Pichai mengatakan permintaan terhadap layanan AI telah melampaui pasokan yang tersedia.

Google memperkirakan belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini mencapai US$180 miliar hingga US$190 miliar atau sekitar Rp3.199,5 triliun hingga Rp3.377,25 triliun. Nilai tersebut lebih dari enam kali lipat dibandingkan dengan 2022.

Investasi tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur komputasi dan mengembangkan chip guna memenuhi kebutuhan AI.

Mengandalkan energi matahari

Selain kebutuhan komputasi, persoalan energi menjadi salah satu alasan Google mengeksplorasi pusat data di luar angkasa. Pusat data di Bumi membutuhkan energi dalam jumlah besar, sedangkan komputasi di luar angkasa memungkinkan pemanfaatan energi matahari secara langsung.

Senior Director Google sekaligus pemimpin Project Suncatcher Travis Beals mengatakan energi matahari merupakan sumber daya yang sangat besar.

“Matahari menghasilkan hampir seluruh energi di tata surya kita. Semua sumber energi lain yang telah dimanfaatkan manusia hanya merupakan sebagian kecil dari persentase tersebut. Jadi, dalam arti tertentu, proyek ini adalah tentang memanfaatkan cara terbaik untuk menggunakan tenaga surya untuk menjalankan komputasi AI,” kata Beals.

Namun, pemanfaatan energi matahari bukan berarti pengembangan pusat data AI di orbit bebas dari persoalan teknis.

Salah satu tantangan terbesar adalah sistem pendinginan. Pada pusat data di Bumi, panas yang dihasilkan chip dapat dikelola menggunakan sistem pendingin seperti udara dan air.

Di ruang hampa udara, panas tidak dapat dibuang dengan cara yang sama. Beals mengatakan radiator menjadi salah satu komponen terberat dalam misi tersebut.

Bobot satelit menjadi persoalan karena semakin berat satelit, semakin tinggi biaya peluncurannya. Karena itu, Google masih mencari sistem pendinginan yang lebih efisien dan ringan.

Google masih menghadapi persoalan biaya

Selain persoalan teknis, aspek ekonomi menjadi pertimbangan utama dalam pengembangan pusat data AI di luar angkasa.

“Tidak banyak membantu jika hal ini secara teknis memungkinkan, tetapi selalu terlalu mahal untuk dapat diterapkan secara praktis,” ujarnya.

Menurut Beals, pusat data di luar angkasa belum akan lebih murah dibandingkan dengan pusat data di Bumi dalam lima tahun ke depan. Teknologi tersebut masih membutuhkan waktu untuk mencapai kelayakan ekonomi.

Beals juga tidak memperkirakan pusat data luar angkasa akan menggantikan pusat data di Bumi dalam waktu dekat. Keduanya diperkirakan akan digunakan secara berdampingan sesuai dengan kebutuhan komputasi.

“Saya pikir akan ada penggunaan yang lebih masuk akal dilakukan di Bumi dan ada pula penggunaan yang lebih masuk akal dilakukan di luar angkasa. Dalam jangka yang sangat panjang, mungkin jenis komputasi yang dilakukan di luar angkasa akan semakin banyak hingga sebagian besar komputasi berlangsung di sana. Namun, untuk waktu yang lama, keduanya akan tetap hidup berdampingan,” kata Beals.

Beals menyebut pengembangan pusat data AI di luar angkasa sebagai proyek jangka panjang yang masih membutuhkan banyak penelitian dan pengujian.

“Ini akan membutuhkan waktu yang lama. Perjalanannya juga tidak akan sepenuhnya berjalan lurus,” tuturnya.

Panas dan perawatan jadi tantangan

Profesor Electrical and Computer Engineering di Carnegie Mellon University Brandon Lucia mengatakan peningkatan penggunaan daya untuk komputasi akan menghasilkan lebih banyak panas yang harus dikelola di dalam satelit.

“Khususnya pada satelit, menggunakan lebih banyak daya untuk melakukan komputasi berarti membuang lebih banyak panas ke lingkungan terbatas di dalam satelit,” ujar Lucia.

Google tengah menguji sejumlah metode, termasuk penggunaan pipa dan radiator untuk memindahkan panas dari chip ke bagian luar satelit.

Persoalan lain yang disoroti Lucia adalah perawatan. Kerusakan komponen pada pusat data di Bumi dapat ditangani langsung oleh teknisi, sedangkan perangkat yang berada di orbit sulit dijangkau.

Lucia mengatakan biaya dan kompleksitas penanganannya dapat meningkat berkali-kali lipat.

“Semua itu memiliki biaya dan kompleksitas yang meningkat 10 kali, mungkin bahkan 100 kali lipat. Jadi, harus ada manfaat yang sangat besar,” katanya.

Aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam pengembangan pusat data AI di luar angkasa. Meski satelit dapat menggunakan energi matahari, peluncurannya tetap membutuhkan roket berbahan bakar karbon.

Satelit yang telah berakhir masa operasinya juga akan kembali memasuki atmosfer Bumi.

Bukan hanya Google

Google bukan satu-satunya perusahaan yang mengembangkan konsep pusat data di luar angkasa.

Pada November tahun lalu, startup Starcloud meluncurkan wahana yang membawa chip Nvidia H100 dan mendemonstrasikan versi AI Gemini dari luar angkasa.

SpaceX juga mengembangkan satelit komputasi AI dan menargetkan penerapan satelit tersebut di orbit paling cepat pada 2028.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online