Kecepatan Internet RI Naik 43,4 Persen, Masih Tertinggal dari ASEAN

Pernita Hestin Untari
Pernita Hestin Untari Selasa, 20 Oktober 2026 21:07 WIB
Kecepatan Internet RI Naik 43,4 Persen, Masih Tertinggal dari ASEAN

Foto ilustrasi kuota internet. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Kecepatan unduh internet seluler Indonesia meningkat 43,4% secara tahunan pada kuartal III/2026. Berdasarkan data Ookla, median kecepatan unduh mencapai 52,01 Mbps, naik dari 36,27 Mbps pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski mengalami peningkatan, kecepatan internet seluler Indonesia masih tertinggal dari sejumlah negara Asia Tenggara. Tantangan geografis berupa wilayah kepulauan dan keterbatasan spektrum frekuensi menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kualitas konektivitas.

Telecom Industry Analyst at Ookla, Affandy Johan, mengatakan pertumbuhan tersebut menunjukkan kualitas jaringan Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik. Namun, masih diperlukan upaya untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di kawasan.

“Poinnya di sini adalah, ya, Indonesia memiliki kecepatan yang lebih rendah [dari beberapa negara] tetapi ini berkembang dan bergerak ke arah yang benar,” kata Affandy dalam Bisnis Indonesia Forum: Memacu Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia di Kantor Bisnis Indonesia, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Kecepatan Internet Indonesia Masih di Bawah Sejumlah Negara ASEAN

Data Ookla menunjukkan Singapura mencatat median kecepatan unduh internet seluler tertinggi di antara negara-negara yang dibandingkan, yakni 151,89 Mbps. Malaysia menyusul dengan 141,95 Mbps, Vietnam 126,71 Mbps, dan Thailand 110,78 Mbps.

Sementara itu, Indonesia mencatat 52,01 Mbps. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Filipina yang mencapai 50,77 Mbps dan Laos sebesar 37,89 Mbps.

Berikut perbandingan median kecepatan unduh internet seluler berdasarkan data Ookla kuartal III/2026:

Singapura: 151,89 Mbps
Malaysia: 141,95 Mbps
Vietnam: 126,71 Mbps
Thailand: 110,78 Mbps
Indonesia: 52,01 Mbps
Filipina: 50,77 Mbps
Laos: 37,89 Mbps

Affandy menjelaskan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas banyak pulau menjadi salah satu tantangan pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Ketersediaan spektrum frekuensi juga perlu diperhatikan untuk mendorong peningkatan kualitas jaringan.

“Jadi, kecepatan ada, tetapi, ada banyak pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memastikan Indonesia bisa terhubung dengan semua negara-negara,” kata Affandy.

Kecepatan Internet Seluler Lebih dari Dua Kali Lipat dalam Tiga Tahun

Peningkatan kualitas internet seluler Indonesia juga terlihat dalam tren jangka menengah. Data Ookla menunjukkan median kecepatan unduh meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 24,75 Mbps pada kuartal III/2023 menjadi 52,01 Mbps pada kuartal III/2026.

Perbaikan tidak hanya terjadi pada angka median. Kecepatan unduh pada kelompok 10% pengguna dengan koneksi paling lambat juga meningkat 48,5% secara tahunan, dari 7,71 Mbps menjadi 11,45 Mbps.

Adapun median kecepatan unggah internet seluler Indonesia naik 23,8% dalam setahun, dari 14,90 Mbps menjadi 18,45 Mbps.

Affandy menekankan bahwa penilaian kualitas konektivitas tidak cukup hanya mengandalkan median kecepatan. Pemerataan akses dan pengalaman pengguna dengan koneksi paling lambat juga perlu menjadi perhatian agar peningkatan kualitas jaringan dapat dirasakan lebih luas.

Kecepatan Internet 5G Indonesia Naik 55,6%

Selain internet seluler secara keseluruhan, Indonesia juga mencatat pertumbuhan pada layanan generasi kelima atau 5G. Berdasarkan paparan Ookla, median kecepatan unduh 5G Indonesia mencapai 126,48 Mbps pada kuartal III/2026, meningkat 55,6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meski tumbuh pesat, kecepatan unduh 5G Indonesia masih berada di bawah sejumlah negara ASEAN. Vietnam mencatat 291 Mbps, Malaysia 283,53 Mbps, Singapura 282,72 Mbps, dan Thailand 160,07 Mbps.

Filipina berada di angka 129,51 Mbps, sedangkan Laos mencatat 101,51 Mbps.

Berikut perbandingan median kecepatan unduh internet 5G berdasarkan data Ookla kuartal III/2026:

Vietnam: 291 Mbps
Malaysia: 283,53 Mbps
Singapura: 282,72 Mbps
Thailand: 160,07 Mbps
Filipina: 129,51 Mbps
Indonesia: 126,48 Mbps
Laos: 101,51 Mbps

Dari sisi pertumbuhan tahunan, kecepatan 5G Indonesia naik 55,6%, sedikit lebih tinggi dibandingkan Laos yang tumbuh 55,2%. Malaysia mencatat pertumbuhan 16,7%, sedangkan Filipina meningkat 7,6%.

Sebaliknya, Singapura, Vietnam, dan Thailand mengalami penurunan masing-masing sebesar 16,2%, 16,8%, dan 3,7%.

Ketersediaan 5G Meningkat, Pemerataan Jaringan Jadi Tantangan

Ookla juga mencatat ketersediaan layanan 5G di Indonesia meningkat menjadi 34,2%, dari sebelumnya 6,9%. Data tersebut menunjukkan peningkatan ketersediaan layanan, meski akses jaringan 5G belum merata di seluruh wilayah.

Affandy mengatakan pengembangan jaringan 5G masih terkonsentrasi di kota-kota besar, terutama Jakarta dan wilayah Jawa. Akibatnya, masyarakat di luar wilayah tersebut belum memperoleh akses yang setara terhadap internet berkecepatan tinggi.

“Jadi, ini adalah dengan 5G roll-out, banyak site-site berkembang, sangat fokus di capital city, di Jakarta, di Jawa. Jadi, di luar Jawa, jumlahnya jauh lebih kecil,” kata Affandy.

Data Ookla turut menunjukkan proporsi pengguna internet seluler Indonesia yang memperoleh kecepatan unduh minimal 100 Mbps meningkat dari 12% pada kuartal III/2025 menjadi 26% pada kuartal III/2026.

Peningkatan itu menandakan semakin banyak pengguna yang menikmati koneksi berkecepatan tinggi. Namun, perluasan jaringan tetap dibutuhkan untuk memperkecil kesenjangan kualitas konektivitas antardaerah.

Menurut Affandy, peningkatan kecepatan internet perlu disertai upaya pemerataan jaringan agar manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pengguna di kota-kota besar. Kolaborasi antara regulator, operator telekomunikasi, dan pihak terkait diperlukan untuk mendorong peningkatan kualitas layanan secara lebih merata.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online