BYD Kesulitan Tembus Pasar Jepang, Penjualan Baru 4.000 Unit

Jumali
Jumali Jum'at, 30 Oktober 2026 13:17 WIB
BYD Kesulitan Tembus Pasar Jepang, Penjualan Baru 4.000 Unit

BYD Dolphin. - Harian Jogja/Antara

Harianjogja.com, JOGJA—Ekspansi produsen mobil listrik asal China, BYD, di Jepang belum berjalan mulus. Meski telah membangun jaringan diler dan menghadirkan model khusus untuk konsumen setempat, pangsa pasar perusahaan tersebut baru mencapai 0,1% sepanjang Januari-September 2026.

Berdasarkan laporan Reuters, Jumat (30/10/2026), BYD menjual kurang dari 4.000 kendaraan di Jepang selama sembilan bulan pertama tahun ini. Angka tersebut memperlihatkan besarnya tantangan yang harus dihadapi produsen kendaraan listrik asal China untuk merebut konsumen di salah satu pasar otomotif utama dunia.

Salah satu kendala terbesar adalah kuatnya posisi produsen otomotif domestik. Merek kendaraan asing hanya menguasai sekitar 6% penjualan mobil penumpang di Jepang. Di sisi lain, konsumen di negara tersebut masih cenderung memilih kendaraan hibrida, teknologi yang menjadi salah satu andalan Toyota.

Jaringan Diler Bertambah, Penjualan BYD Belum Signifikan

BYD sebenarnya telah memulai bisnisnya di Jepang sejak 2023. Perusahaan itu terus memperkuat jaringan distribusi dengan mengoperasikan lebih dari 75 diler dan menargetkan jumlahnya meningkat menjadi 100 lokasi.

Selain memperluas jaringan penjualan, BYD juga mencoba menyesuaikan produknya dengan kebutuhan konsumen Jepang. Salah satu langkahnya adalah meluncurkan mobil listrik berukuran mungil atau kei car pada Juli 2026.

Segmen tersebut memiliki karakteristik tersendiri dan selama ini dikuasai produsen otomotif lokal Jepang. Namun, kehadiran model baru BYD belum langsung menghasilkan penjualan besar.

Hingga September 2026, penjualan mobil listrik mungil tersebut baru mencapai sekitar 650 unit. Capaian ini menunjukkan bahwa penyesuaian produk saja belum cukup untuk membuat BYD dengan mudah menembus pasar Jepang.

Meski demikian, perusahaan tetap melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya. Marc Yamada dari konsultan Alvarez & Marsal menilai keberhasilan BYD tidak semata-mata harus diukur berdasarkan pangsa pasar saat ini.

"Ini bukan soal pangsa pasar, melainkan pertumbuhan," ujarnya.

Persepsi terhadap Produk China Jadi Tantangan

Selain persaingan dengan merek lokal, BYD juga menghadapi tantangan berupa pandangan konsumen Jepang terhadap China.

Survei Pew Research Center pada 2026 menunjukkan sebanyak 88% masyarakat Jepang memiliki pandangan negatif terhadap China. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi upaya produsen otomotif China dalam membangun kepercayaan konsumen.

Keraguan juga berkaitan dengan persepsi terhadap kualitas dan keamanan kendaraan. Fumio Kuwabara, pengguna awal mobil listrik yang telah memakai kendaraan listrik buatan Jepang sejak 2010, mengaku belum sepenuhnya yakin dengan keandalan mobil produksi China.

"Saya merasa ada bagian-bagian yang kualitasnya dikurangi, tetapi tidak bisa terlihat dari luar," ujarnya.

Isu keamanan kendaraan turut menjadi perhatian di kalangan politik Jepang. Daishiro Yamagiwa, anggota parlemen dari partai berkuasa, meminta pemerintah mempertimbangkan risiko keamanan kendaraan China yang disebut dapat dikendalikan dari luar kendaraan.

BYD Bantah Ketegangan Diplomatik Pengaruhi Penjualan

Di tengah berbagai tantangan tersebut, BYD menyatakan ketegangan diplomatik antara Jepang dan China tidak memberikan dampak khusus terhadap aktivitas bisnisnya.

Juru bicara BYD Auto Japan mengatakan situasi hubungan kedua negara tidak berpengaruh secara khusus terhadap penjualan kendaraan, jumlah kunjungan ke ruang pamer, maupun pertanyaan konsumen mengenai produk BYD.

Dengan pangsa pasar yang masih terbatas, BYD perlu menghadapi persaingan dari produsen lokal sekaligus membangun keyakinan konsumen terhadap produk-produknya. Perluasan jaringan diler dan penyesuaian model menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperbesar peluang pertumbuhan di Jepang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online