Serangan Siber Sasar 3 Fasilitas Bank Darah di Prancis

Jumali
Jumali Jum'at, 06 November 2026 14:07 WIB
Serangan Siber Sasar 3 Fasilitas Bank Darah di Prancis

Ilustrasi. /Everypixel

Harianjogja.com, JOGJA—Serangan siber terhadap fasilitas penyimpanan darah di Prancis nyaris mengancam persediaan plasma yang dibutuhkan untuk transfusi dan pembuatan obat. Peretas mengubah pengaturan suhu serta pencairan es pada sistem pendingin di tiga lokasi milik lembaga layanan darah nasional Prancis.

Insiden tersebut menjadi perhatian karena serangan tidak hanya menyasar data digital, tetapi juga perangkat yang mengendalikan infrastruktur fisik. Jika perubahan pengaturan tidak segera diketahui, produk darah yang membutuhkan suhu penyimpanan tertentu berisiko rusak dan tidak dapat digunakan.

Otoritas Prancis mengumumkan insiden itu pada Rabu (4/11/2026). Serangan diketahui memengaruhi sistem pemantauan dan pengendalian ruang penyimpanan dingin milik French Blood Establishment (EFS).

EFS menjelaskan ambang batas suhu dan proses pencairan es (defrosting) pada sejumlah perangkat di tiga fasilitasnya telah diubah ke tingkat yang sangat tinggi. Serangan tersebut berlangsung pada malam 1–2 November 2026 dan berkaitan dengan penyedia layanan peralatan pendingin yang digunakan lembaga tersebut.

Produk yang tersimpan di fasilitas terdampak mencakup kantong plasma untuk transfusi serta plasma yang menjadi bahan pembuatan obat-obatan. Dengan demikian, gangguan pada sistem pendingin berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan penting bagi layanan kesehatan.

Sistem Alarm Berhasil Menyelamatkan Produk Darah

Meski pengaturan perangkat telah dimanipulasi, sistem pemantauan dan alarm EFS mendeteksi perubahan tersebut dengan cepat. Petugas kemudian mengambil langkah pengamanan, termasuk memindahkan produk ke fasilitas penyimpanan lain yang tidak terhubung dengan sistem terdampak.

EFS memastikan tidak ada produk darah yang rusak atau hilang akibat insiden tersebut. Lembaga itu juga menyatakan belum menemukan dampak terhadap kesehatan.

“Tidak ada dampak terhadap kesehatan yang teridentifikasi dan tidak ada produk darah yang hilang,” demikian pernyataan resmi EFS, dikutip dari laporan Associated Press dan DW.

Kegiatan pengumpulan maupun distribusi darah di Prancis juga dipastikan tetap berjalan. Artinya, serangan tersebut tidak sampai mengganggu layanan pasokan darah bagi rumah sakit dan fasilitas kesehatan.

Kementerian Kesehatan Prancis menyatakan akses jarak jauh ke perangkat pendingin yang terdampak telah dinonaktifkan. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah pihak tidak berwenang kembali mengubah pengaturan peralatan.

Penyedia Peralatan Pendingin Diduga Menjadi Sasaran

EFS menjelaskan bahwa lembaganya bukan sasaran langsung serangan siber. Gangguan justru berkaitan dengan penyedia layanan peralatan pendingin yang digunakan untuk mengelola ruang penyimpanan darah.

Perusahaan penyedia peralatan tersebut, Coolworld, mengakui adanya insiden keamanan siber yang melibatkan perangkat lunak pemantauan jarak jauh. Perusahaan menyebut kerentanan yang dilaporkan berkaitan dengan komponen dari pemasok pihak ketiga dan berada di luar kendali langsung Coolworld.

Meski demikian, belum seluruh detail mengenai cara peretas memperoleh akses dan memanipulasi sistem tersebut diungkap ke publik. Identitas pelaku juga belum diketahui.

Otoritas keamanan siber Prancis bersama Kementerian Kesehatan kini menyelidiki insiden tersebut. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui metode serangan, perangkat yang terdampak, serta langkah yang diperlukan sebelum sistem dapat kembali dioperasikan dengan aman.

EFS juga memperketat pengawasan terhadap peralatan pendingin dan suhu penyimpanan. Pengawasan ini penting untuk memastikan perubahan yang tidak wajar dapat segera diketahui, terutama pada fasilitas yang menyimpan produk biologis untuk kebutuhan medis.

Serangan Siber pada Perangkat Fisik Jadi Perhatian

Kasus di fasilitas EFS memperlihatkan bahwa serangan siber dapat menimbulkan konsekuensi langsung terhadap benda dan layanan di dunia nyata. Peretas tidak harus mencuri data pasien atau melumpuhkan jaringan komputer rumah sakit untuk menimbulkan risiko bagi sektor kesehatan.

Manipulasi pengaturan suhu saja dapat mengancam kualitas produk yang disimpan dalam ruang pendingin. Karena itu, perangkat industri yang terhubung dengan jaringan dan dapat dikendalikan dari jarak jauh juga perlu mendapat perlindungan keamanan digital.

Insiden di Prancis ini terjadi di tengah laporan serangan terhadap sistem pendingin supermarket di sejumlah negara Eropa. Dalam sejumlah kasus tersebut, perangkat pendingin juga menjadi sasaran manipulasi sehingga suhu penyimpanan makanan berubah dan menimbulkan kerugian.

Namun, hingga kini belum ada kepastian bahwa serangan terhadap fasilitas EFS dan supermarket dilakukan oleh pelaku yang sama atau memiliki hubungan operasional. Penyelidikan masih diperlukan untuk mengungkap pola dan pihak yang bertanggung jawab.

Bagi masyarakat, terjaganya fasilitas penyimpanan darah menjadi hal penting karena produk darah dan plasma merupakan bagian dari rantai layanan kesehatan. Keberhasilan sistem alarm dan respons petugas dalam insiden ini membuat persediaan yang terdampak dapat diamankan sebelum menimbulkan kerugian maupun gangguan terhadap layanan pasien.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online