Advertisement
Uni Eropa Siap Wajibkan Pemblokiran Huawei dan ZTE dari Infrastruktur
Huawei Matebook 16s / Huawei
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Uni Eropa bersiap memperketat kebijakan keamanan siber dengan mewajibkan negara anggotanya menyingkirkan perangkat Huawei dan ZTE dari jaringan vital, menyusul kekhawatiran risiko keamanan dan langkah serupa yang lebih dulu diambil Amerika Serikat.
Kebijakan tersebut akan mengikat seluruh negara anggota Uni Eropa untuk memblokir penggunaan peralatan dari vendor yang dikategorikan berisiko tinggi, terutama Huawei dan ZTE, pada infrastruktur strategis seperti telekomunikasi dan energi surya.
Advertisement
Laporan Financial Times yang dikutip Reuters, Selasa (20/1/2026), menyebutkan bahwa Komisi Eropa tengah menyiapkan proposal keamanan siber yang dijadwalkan dirilis pekan ini. Proposal ini mengubah pendekatan sebelumnya yang bersifat sukarela menjadi mandat wajib bagi negara anggota.
Langkah tersebut diambil untuk mengatasi lambannya implementasi kebijakan di sejumlah negara besar, seperti Spanyol dan Jerman, yang selama ini dinilai enggan sepenuhnya menghapus perangkat Huawei dan ZTE dari jaringan kritis mereka.
BACA JUGA
Dalam skema yang disiapkan, penghapusan perangkat akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan tingkat risiko di masing-masing wilayah. Faktor biaya serta ketersediaan alternatif pemasok juga menjadi bahan pertimbangan dalam penerapan kebijakan ini.
Hingga saat ini, Komisi Eropa, Kementerian Perdagangan Tiongkok, Huawei, maupun ZTE belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut. Reuters menyebutkan bahwa informasi ini masih menunggu konfirmasi independen dari pihak-pihak terkait.
Kebijakan Uni Eropa ini memperkuat tren global yang semakin membatasi penggunaan perangkat teknologi asal Tiongkok. Sebelumnya, Amerika Serikat telah memberlakukan larangan serupa sejak 2022 dengan alasan keamanan nasional.
Di tengah sikap Eropa yang semakin ketat, Huawei dilaporkan mulai mempertimbangkan ulang rencana pembangunan pabrik baru di wilayah selatan Prancis. Ketidakpastian kebijakan dan lambannya pengembangan jaringan 5G di Eropa turut menjadi faktor pertimbangan.
Jika kebijakan ini diterapkan penuh, lanskap teknologi dan energi di Eropa diperkirakan akan mengalami perubahan signifikan, seiring meningkatnya eskalasi rivalitas teknologi antara negara-negara Barat dan Beijing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
4 Kasus Teror Hiu dalam 48 Jam di Australia, Warga Diminta Jauhi Laut
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Permohonan Akta Kematian Terlambat Dominasi Layanan Posbakum PN Sleman
- Libur Isra Mikraj, Tol Jogja-Solo Catat Lonjakan Lalu Lintas
- SPPG Berpeluang Jadi PPPK, DPRD DIY Minta Prioritas Guru Honorer
- Cek Jadwal KRL Solo-Jogja Terbaru untuk 20 Januari 2026
- Update Jadwal KA Prameks Tugu Jogja-Kutoarjo 20 Januari 2026
Advertisement
Advertisement



