Advertisement
AS Batasi Router Impor, Risiko Harga Naik Mengintai
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Amerika Serikat resmi memperketat penggunaan perangkat jaringan impor dengan memasukkan router buatan luar negeri ke dalam daftar risiko keamanan nasional. Langkah ini menandai eskalasi kebijakan proteksionisme di sektor teknologi.
Engadget melaporkan, kebijakan tersebut dikeluarkan oleh Federal Communications Commission (FCC) melalui daftar khusus yang dikenal sebagai “Covered List”. Daftar ini berisi perangkat komunikasi yang dinilai berpotensi membahayakan keamanan nasional.
Advertisement
Router Lama Masih Aman Digunakan
Meski aturan diperketat, FCC memberikan pengecualian bagi perangkat yang sudah dimiliki masyarakat. Router impor yang telah dibeli sebelumnya tetap bisa digunakan tanpa pembatasan.
BACA JUGA
Selain itu, produk yang sudah mendapatkan persetujuan sebelumnya masih boleh dijual oleh pengecer. Namun ke depan, pilihan router impor dipastikan akan semakin terbatas.
Perusahaan pembuat router dari luar negeri masih memiliki peluang untuk keluar dari daftar tersebut. Namun, mereka harus mengajukan persetujuan khusus ke pemerintah AS dengan syarat memindahkan sebagian produksi ke dalam negeri.
Kebijakan ini menjadi tantangan besar bagi produsen global. Relokasi fasilitas produksi ke AS membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang tidak singkat.
Menariknya, dampak kebijakan ini tidak hanya menyasar perusahaan asing. Sejumlah perusahaan teknologi asal AS juga berpotensi terdampak karena basis produksinya berada di luar negeri.
Beberapa di antaranya adalah Netgear, Eero, dan Google melalui lini produknya Google Nest.
Meski berkantor pusat di AS, proses manufaktur mereka banyak dilakukan di Asia, termasuk Taiwan. Hingga kini belum ada kepastian apakah perusahaan-perusahaan tersebut akan mendapatkan pengecualian atau harus mengikuti aturan baru.
Bagi konsumen di AS, kebijakan ini berpotensi mengurangi pilihan produk router di pasaran. Selain itu, harga perangkat jaringan diperkirakan akan meningkat akibat biaya produksi dalam negeri yang lebih tinggi.
Dampaknya juga bisa dirasakan secara global. Sebagai pasar teknologi terbesar, kebijakan AS berpotensi memengaruhi rantai pasok dunia, termasuk harga dan ketersediaan produk di negara lain seperti Indonesia.
Strategi Kurangi Ketergantungan Asing
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan pada produk asing. Mulai dari bahan mentah hingga produk jadi, semua diarahkan agar lebih mandiri secara domestik.
Kebijakan ini juga merupakan kelanjutan dari upaya penguatan rantai pasok yang sudah digaungkan sejak pandemi Covid-19. Jika tren ini berlanjut, perubahan besar dalam industri teknologi global sulit dihindari dan berpotensi berdampak pada harga serta ketersediaan perangkat yang digunakan masyarakat sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Imbas Konflik Timur Tengah, Philippine Airlines Terpaksa Setop 5 Rute
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Arus Balik Lebaran DIY Terbagi Dua Gelombang, Dishub Siaga
- Libur Lebaran 2026, Kunjungan Wisata Sleman Justru Menurun
- Layanan Satpas SIM DIY Kembali Beroperasi Pascalibur Lebaran 2026
- Wisata Gunungkidul Diprediksi Ramai hingga Akhir Pekan
- Samsat DIY Buka Kembali Seusai Libur Lebaran, Bebas Denda Pajak Motor
Advertisement
Advertisement







