Advertisement
Jepang Pangkas Subsidi EV, BYD Kena Dampaknya
BYD Dolphin. - Harian Jogja - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA — Ambisi ekspansi BYD di pasar Jepang menghadapi tantangan besar setelah pemerintah setempat memangkas drastis subsidi kendaraan listrik (EV), membuat harga mobil BYD semakin sulit bersaing.
Bagi calon pembeli, perubahan ini berdampak langsung pada selisih harga yang kian lebar dibandingkan merek lain, terutama produsen lokal Jepang.
Advertisement
Pemerintah Jepang dilaporkan memangkas insentif untuk kendaraan listrik BYD lebih dari 50 persen. Jika sebelumnya subsidi berada di kisaran 350.000–400.000 yen (sekitar Rp35 juta–Rp40 juta), kini turun menjadi hanya sekitar 150.000 yen atau Rp15 juta.
Penurunan ini membuat posisi BYD sebagai pendatang baru semakin tertekan di pasar otomotif Jepang yang terkenal kompetitif.
BACA JUGA
Strategi Jepang Lindungi Industri Lokal
Menurut laporan Carscoops, kebijakan ini berkaitan dengan revisi skema subsidi EV yang kini lebih memprioritaskan kendaraan dengan baterai produksi dalam negeri.
Karena BYD menggunakan baterai buatan Tiongkok, perusahaan ini otomatis tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan insentif maksimal. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis Jepang untuk melindungi industri otomotif domestik dari persaingan global.
Perbandingan Subsidi dengan Kompetitor
Sementara BYD mengalami pemangkasan signifikan, produsen lokal justru mendapatkan keuntungan besar. Model seperti Toyota bZ4X masih menerima subsidi hingga 1,3 juta yen.
Begitu pula Nissan Ariya yang tetap memperoleh insentif tinggi meski akan mengalami penyesuaian di masa depan.
Menariknya, Tesla juga mendapatkan peningkatan subsidi hingga sekitar 1,27 juta yen. Hal ini diduga karena penggunaan baterai dari Panasonic yang dianggap mendukung industri lokal Jepang.
Beberapa merek global lain seperti Audi dan Hyundai juga sempat menikmati kenaikan subsidi karena kemitraan strategis atau penggunaan komponen tertentu, meski kebijakan tersebut disebut tidak bersifat permanen.
BYD dalam Posisi Sulit
Pimpinan BYD Jepang, Atsuki Tofukuji dikutip dari Nikkei Asia mengungkapkan bahwa perusahaan kini menghadapi tantangan besar akibat selisih harga yang melebar hingga hampir 1 juta yen dibandingkan kompetitor.
Dengan perbedaan harga mencapai sekitar Rp100 juta, daya saing BYD di pasar Jepang menjadi semakin berat, terutama sebagai merek yang masih membangun kepercayaan konsumen.
Bagi konsumen Jepang, kebijakan ini memang menguntungkan karena membuat produk lokal lebih terjangkau. Namun di sisi lain, pilihan kendaraan menjadi lebih terbatas dan potensi persaingan harga berkurang.
Di tingkat global, langkah Jepang ini menjadi sinyal kuat bahwa persaingan industri kendaraan listrik semakin ketat, dengan kebijakan proteksi lokal yang kemungkinan akan semakin sering diterapkan oleh berbagai negara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gelar Pertemuan Tertutup, KPK dan Polri Bahas Perkara Korupsi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kronologi Brutal Pengeroyokan di Sleman, Berawal dari Geber Motor
- Rekening Donasi Dibuka untuk Warga Iran Terdampak Konflik
- Jadwal KRL Jogja Solo Jumat 3 April 2026, Padat Seharian Tarif Tetap
- Jelang Muscab, PKB Bantul Matangkan Konsolidasi Partai
- HUT ke-80 Sultan HB X, 16 Ribu Nasi Angkringan Ludes di Malioboro
Advertisement
Advertisement








