Advertisement
Robot Bukan Ancaman, Ini Strategi Pabrik di Thailand
Pekerja mengawasi proses pengelasan yang dilakukan oleh robot di pabrik perakitan Suzuki Cikarang, Jawa Barat, Selasa (19/2/2018). - Bisnis Indonesia/Muhammad Khadafi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Industri otomotif Thailand tengah menghadapi tekanan berat setelah sejumlah pabrikan besar menghentikan operasinya. Namun di tengah situasi tersebut, AutoAlliance Thailand (AAT) justru mengambil langkah berbeda dengan memanfaatkan otomatisasi tanpa mengorbankan tenaga kerja.
Kondisi industri di Negeri Gajah Putih memang tidak sedang baik-baik saja. Penetrasi mobil listrik asal China yang mencapai sekitar 70% pasar kendaraan listrik membuat penjualan mobil nasional anjlok hingga 24,6% pada Maret 2026. Dampaknya, perusahaan seperti Suzuki dan Subaru memilih menutup pabriknya secara bertahap sejak akhir 2025.
Advertisement
Di tengah tekanan tersebut, AAT tetap menargetkan produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun. Untuk mencapai target itu, perusahaan meningkatkan penggunaan robot di lini produksi. Namun, berbeda dari kekhawatiran umum, langkah ini tidak diikuti dengan pemutusan hubungan kerja.
Vice President HR AAT, Satirayuth “Max” Sangsuan, menegaskan bahwa robot digunakan untuk menggantikan pekerjaan repetitif dan berisiko tinggi, bukan menggantikan manusia sepenuhnya.
BACA JUGA
“Kami tidak pernah mengatakan bahwa dengan adanya robot, karyawan akan diberhentikan. Justru mereka akan mendapatkan peran yang lebih penting,” ujarnya, dikutip dari ILO Voice.
Pekerja yang sebelumnya berada di lini produksi manual kini dialihkan ke posisi dengan tanggung jawab lebih tinggi, seperti operator robot, teknisi pemeliharaan, hingga pengawas kualitas. Pengalaman kerja yang dimiliki karyawan tetap menjadi faktor kunci dalam menjaga standar produksi global.
Salah satu kunci keberhasilan strategi ini adalah transparansi. Sebelum implementasi otomatisasi, manajemen terlebih dahulu menggelar diskusi terbuka dengan karyawan dan serikat pekerja. Rencana produksi, alasan penggunaan robot, hingga perubahan peran dijelaskan secara rinci.
Pendekatan ini mengubah hubungan industrial dari yang semula berpotensi konflik menjadi kolaboratif. Target produksi tahunan bahkan dipecah hingga skala bulanan agar seluruh pekerja memahami arah perusahaan dan dapat berkontribusi secara optimal.
Model komunikasi ini juga diperluas ke rantai pasok. AAT melibatkan sekitar 20 perusahaan pemasok dalam pelatihan bersama International Labour Organization (ILO) guna mendorong pola dialog yang konstruktif antara manajemen dan pekerja.
Bagi Indonesia, pendekatan ini menjadi pelajaran penting di tengah transformasi industri otomotif menuju kendaraan listrik. Otomatisasi tidak selalu identik dengan pengurangan tenaga kerja, selama perusahaan mampu mengelola perubahan secara terbuka dan melibatkan pekerja sebagai mitra.
Jika pola ini diterapkan, otomatisasi justru bisa meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing industri. Namun tanpa komunikasi yang jelas, teknologi berpotensi memicu ketakutan dan konflik di lingkungan kerja.
Pengalaman AAT menegaskan bahwa di era industri modern, robot hanyalah alat. Sementara manusia tetap menjadi faktor utama yang menentukan kualitas, inovasi, dan keberlanjutan sebuah perusahaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement









