Ban Mobil Jarang Dipakai Tetap Bisa Retak, Kenali Penyebabnya

Jumali
Jumali Jum'at, 25 September 2026 08:27 WIB
Ban Mobil Jarang Dipakai Tetap Bisa Retak, Kenali Penyebabnya

Ban Kendaraan - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Ban mobil yang jarang digunakan bukan berarti terbebas dari kerusakan. Karet ban tetap mengalami proses penuaan meski kendaraan lebih sering terparkir di garasi.

Salah satu tanda yang kerap muncul adalah retakan halus atau weather cracking pada permukaan ban. Kondisi ini dapat dipengaruhi usia ban, paparan sinar ultraviolet, panas, kondisi penyimpanan, tekanan angin, hingga cara kendaraan digunakan.

Karena itu, pemilik mobil tidak cukup hanya melihat ketebalan alur ban. Kondisi dinding samping (sidewall), permukaan karet, usia ban, serta perubahan perilaku kendaraan juga perlu diperhatikan.

Berikut sejumlah penyebab ban mobil mengalami retak rambut dan cara membedakan retakan permukaan dengan kerusakan yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.

7 Penyebab Ban Mobil Retak Rambut

1. Usia ban

Karet ban mengalami perubahan sifat seiring waktu. Panas, oksigen, ozon, sinar ultraviolet, serta kondisi penyimpanan dan penggunaan dapat membuat material karet menua dan kehilangan sebagian elastisitasnya.

Karena itu, usia ban perlu diperhatikan meskipun alur tapaknya masih terlihat tebal. Michelin menyarankan ban diperiksa secara lebih teliti oleh profesional setelah lima tahun penggunaan dan merekomendasikan penggantian pada 10 tahun sejak tanggal produksi sebagai langkah pencegahan.

Tanggal produksi dapat diketahui melalui empat angka terakhir pada kode DOT di dinding ban. Dua angka pertama menunjukkan minggu produksi, sedangkan dua angka terakhir menunjukkan tahun pembuatannya.

2. Terlalu sering terpapar sinar matahari dan panas

Ban yang terus-menerus terparkir di bawah terik matahari dapat mengalami penuaan lebih cepat. Radiasi ultraviolet dan temperatur tinggi berkontribusi terhadap degradasi material karet.

Karena itu, kendaraan yang sering diparkir di ruang terbuka sebaiknya mendapat perlindungan dari paparan matahari langsung dalam waktu lama.

3. Mobil terlalu lama tidak digunakan

Kendaraan yang lama terparkir membuat ban terus menopang bobot mobil pada posisi yang sama. Dalam kondisi tertentu, hal ini dapat menimbulkan flat spot, yakni perubahan bentuk sementara atau permanen pada area ban yang menjadi tumpuan.

Ban yang lama tidak digunakan tetap mengalami proses penuaan. Jadi, rendahnya jarak tempuh tidak otomatis berarti kondisi ban masih seperti baru.

4. Tekanan angin tidak sesuai rekomendasi

Tekanan angin yang terlalu rendah dapat membuat dinding ban mengalami pembengkokan berlebihan ketika kendaraan berjalan. Kondisi tersebut meningkatkan panas dan beban pada ban.

Sebaliknya, tekanan yang tidak sesuai rekomendasi pabrikan juga dapat memengaruhi pengendalian kendaraan dan pola keausan. Karena itu, tekanan ban sebaiknya diperiksa secara berkala ketika ban dalam kondisi dingin dan disesuaikan dengan rekomendasi pada stiker kendaraan atau buku manual.

5. Terkena oli atau bahan kimia tertentu

Ban dapat mengalami kerusakan apabila terus-menerus terpapar bahan yang tidak sesuai untuk permukaan karet, termasuk sejumlah bahan kimia, hidrokarbon, atau cairan berbasis minyak.

Jika ban terkena tumpahan oli atau bahan kimia, segera bersihkan sesuai petunjuk perawatan dari produsen ban. Hindari menggunakan pelarut atau bahan pembersih yang justru dapat merusak karet.

6. Kondisi material dan kualitas ban

Komposisi material dan desain ban turut menentukan ketahanan terhadap penuaan. Namun, retak rambut tidak bisa semata-mata disimpulkan sebagai akibat kualitas karet yang rendah tanpa pemeriksaan produk dan kondisi penggunaannya.

Faktor seperti iklim, penyimpanan, tekanan angin, beban, kecepatan, serta perawatan juga memengaruhi proses penuaan ban.

7. Beban dan penggunaan kendaraan tidak sesuai

Ban yang digunakan melebihi kemampuan angkut atau bekerja dalam kondisi yang tidak sesuai spesifikasinya akan menerima beban lebih besar.

Selain mempercepat keausan, kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap komponen ban. Karena itu, kapasitas muatan dan tekanan ban perlu mengikuti spesifikasi kendaraan serta ban.

Bagaimana Membedakan Retak yang Masih Dangkal dan yang Berbahaya?

Tidak semua retakan kecil pada permukaan ban berarti ban langsung tidak boleh digunakan.

Retakan yang tipis dan dangkal pada permukaan karet dapat merupakan tanda awal penuaan atau paparan ozon dan cuaca. Bridgestone juga menyebut retakan permukaan dangkal sebagai kondisi yang dapat ditemukan pada ban dan tidak selalu menunjukkan kerusakan yang langsung mengharuskan penggantian.

Namun, perhatian lebih serius diperlukan jika retakan terlihat dalam, membuka ketika ban mengalami tekanan atau kelenturan, atau disertai kerusakan lain pada dinding maupun tapak ban.

Michelin menyarankan penggantian apabila terdapat retakan pada sidewall atau tapak yang membuka ketika karet ditekuk. Benjolan atau gelembung pada dinding ban juga merupakan tanda kerusakan struktur dan memerlukan penggantian.

Jika kerusakan sampai memperlihatkan lapisan kain atau komponen internal ban, kendaraan sebaiknya tidak digunakan sebelum ban diperiksa dan dinyatakan aman oleh teknisi.

Risiko Menggunakan Ban yang Sudah Rusak

Ban yang mengalami kerusakan serius dapat kehilangan kemampuan bekerja sebagaimana mestinya. Risiko yang mungkin muncul antara lain kehilangan tekanan, perubahan perilaku kendaraan, berkurangnya cengkeraman, hingga kegagalan ban.

Risiko tersebut menjadi semakin penting pada kecepatan tinggi. Michelin menyebut kerusakan internal akibat benturan atau kondisi tertentu terkadang tidak terlihat dari luar, sehingga pemeriksaan profesional diperlukan apabila terdapat tanda-tanda kerusakan atau perubahan perilaku kendaraan.

Kapan Ban Sebaiknya Diganti?

Pemilik mobil sebaiknya segera meminta pemeriksaan atau mempertimbangkan penggantian apabila menemukan:

  • Retakan dalam pada sidewall atau tapak yang membuka ketika ban ditekuk.

  • Benjolan atau gelembung pada dinding ban.

  • Potongan yang cukup dalam hingga memperlihatkan lapisan internal.

  • Tapak sudah mencapai indikator keausan (Tread Wear Indicator/TWI).

  • Terjadi getaran atau perubahan pengendalian yang tidak biasa.

  • Ban mengalami kerusakan setelah digunakan dalam kondisi kurang angin.

  • Usia ban sudah sangat tua dan hasil pemeriksaan menunjukkan penurunan kondisi.

Ban yang sudah mencapai batas usia yang direkomendasikan produsen juga perlu diganti meskipun alur tapaknya masih terlihat tebal. Michelin, misalnya, merekomendasikan penggantian pada 10 tahun sejak tanggal produksi sebagai langkah kehati-hatian.

Cara Merawat Ban agar Lebih Awet

Ada sejumlah langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menjaga kondisi ban, antara lain:

  1. Parkir kendaraan di tempat yang teduh dan terlindung dari paparan matahari langsung dalam waktu lama.

  2. Periksa tekanan angin secara berkala ketika ban dalam kondisi dingin.

  3. Gunakan tekanan sesuai rekomendasi pabrikan kendaraan.

  4. Bersihkan ban apabila terkena oli, bahan bakar, atau bahan kimia tertentu.

  5. Jika kendaraan akan lama tidak digunakan, perhatikan kondisi ban dan lakukan pemeriksaan sebelum kembali berkendara.

  6. Lakukan rotasi ban sesuai interval yang direkomendasikan pabrikan kendaraan.

  7. Jangan membawa muatan melebihi kapasitas kendaraan.

  8. Periksa kondisi ban secara visual, termasuk dinding samping dan alur tapak.

Jangan Hanya Melihat Ketebalan Tapak

Ban yang masih memiliki alur tebal belum tentu berada dalam kondisi prima. Usia, retakan, benjolan, kerusakan akibat tekanan angin, serta perubahan perilaku kendaraan juga perlu menjadi perhatian.

Retak rambut yang sangat dangkal dapat menjadi tanda awal penuaan dan tidak selalu berarti ban harus langsung diganti. Namun, retakan yang dalam, terbuka saat ban melentur, disertai benjolan, atau menunjukkan kerusakan struktur merupakan alasan untuk menghentikan penggunaan dan meminta pemeriksaan profesional.

Dengan rutin memeriksa kondisi ban dan mengikuti rekomendasi pabrikan, pemilik kendaraan dapat mengurangi risiko kerusakan ban sekaligus menjaga keselamatan berkendara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online