OpenAI Pasang Watermark Tak Terlihat di ChatGPT dan Codex

Jumali
Jumali Rabu, 07 Oktober 2026 13:47 WIB
OpenAI Pasang Watermark Tak Terlihat di ChatGPT dan Codex

Artificial Intelligence alias kecerdasan buatan - Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Pengguna ChatGPT dan Codex di Uni Eropa bakal mendapati perubahan yang tidak terlihat saat menggunakan layanan OpenAI. Teks yang dihasilkan layanan tersebut akan memiliki watermark digital yang tertanam dalam pola pemilihan kata.

Watermark tersebut tidak berupa simbol, tulisan, atau karakter khusus yang bisa dilihat pembaca. Namun, pola itu dapat diperiksa menggunakan sistem deteksi tertentu untuk mengetahui apakah sebuah teks kemungkinan dibuat atau diproses oleh OpenAI.

OpenAI menyebut penerapan watermark akan dilakukan dalam beberapa minggu ke depan untuk pengguna ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di Uni Eropa, termasuk pengguna dari berbagai paket layanan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memenuhi ketentuan transparansi dalam EU AI Act.

Cara Kerja Watermark ChatGPT

Watermark OpenAI tidak ditempelkan sebagai tanda tambahan di luar teks. Teknologi bernama textGrain bekerja dengan mengubah secara halus pola pemilihan kata ketika model menyusun jawaban.

Model bahasa pada dasarnya memilih kata berikutnya dari sejumlah kemungkinan. textGrain memanfaatkan pilihan-pilihan tersebut untuk membentuk pola statistik tertentu sepanjang sebuah teks.

Pola tersebut kemudian dapat dicari oleh detektor menggunakan teks yang diperiksa dan kunci yang sesuai. Karena sinyal berada di dalam pola kata, watermark dapat tetap terbawa ketika teks disalin dan ditempel ke tempat lain.

OpenAI menjelaskan teknologi tersebut dalam laporan teknis yang dibuat bersama peneliti dari University of Pennsylvania dan Yale. Perusahaan menyebut watermark tidak berupa karakter tersembunyi, spasi khusus, atau tanda baca tertentu.

Dengan demikian, pembaca biasa tidak akan mengetahui apakah sebuah teks memiliki watermark hanya dengan melihat tampilannya. Pemeriksaan membutuhkan sistem deteksi yang dapat mengenali pola tersebut.

Watermark Bukan Bukti Mutlak Teks AI

Kemampuan deteksi tetap memiliki keterbatasan. OpenAI menguji perubahan kecil pada teks dan menemukan bahwa penggantian sekitar 10% kata dengan sinonim dapat menurunkan tingkat deteksi dari sekitar 92% menjadi 66%.

Deteksi juga lebih sulit dilakukan pada teks yang sangat pendek, jawaban matematika, serta teks hasil terjemahan. Karena itu, keberadaan atau ketiadaan watermark tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan siapa yang menulis sebuah teks.

OpenAI juga menegaskan watermark hanya dapat memberikan indikasi bahwa sistem OpenAI kemungkinan menghasilkan atau memproses sebagian teks. Watermark tidak menunjukkan seberapa besar kontribusi manusia, tingkat penyuntingan, kreativitas, maupun siapa pengguna yang membuatnya.

Artinya, teks yang tidak terdeteksi watermark bukan otomatis berarti ditulis manusia. Ada kemungkinan watermark melemah karena teks terlalu pendek, mengalami banyak penyuntingan, berasal dari model yang belum mendukung teknologi tersebut, atau dibuat menggunakan layanan AI lain.

OpenAI karena itu tidak langsung membuka sistem pendeteksi watermark tersebut kepada publik. Akses awal diberikan kepada peneliti dan organisasi ahli yang disetujui untuk membantu menguji keandalan serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Mengapa OpenAI Menerapkannya?

Perubahan tersebut berkaitan dengan aturan transparansi dalam EU AI Act yang mulai berlaku pada 2 Agustus 2026.

Pasal 50 AI Act mengatur agar penyedia sistem AI generatif memastikan konten yang dihasilkan dapat diberi penanda dalam format yang dapat dibaca mesin dan dapat dideteksi sebagai konten yang dibuat atau dimanipulasi AI. Aturan tersebut tidak berarti setiap teks AI harus menggunakan teknologi watermark yang sama.

Uni Eropa juga memberikan sejumlah ketentuan dan pengecualian. Untuk teks yang dipublikasikan mengenai kepentingan publik, misalnya, terdapat kewajiban pengungkapan dalam kondisi tertentu, termasuk ketika tidak ada peninjauan atau kendali editorial manusia.

OpenAI memilih textGrain sebagai salah satu cara memenuhi kewajiban tersebut, tetapi perusahaan tidak langsung menjadikannya standar global.

Mulai 5 Oktober 2026, pelanggan API OpenAI di seluruh dunia juga dapat mengaktifkan watermark untuk model tertentu. Namun, fitur tersebut masih dalam kondisi nonaktif secara default.

Beda dengan Anthropic

Langkah OpenAI menyusul Anthropic yang lebih dulu menerapkan watermark pada teks keluaran Claude.

Anthropic mengatakan watermark pada model-model yang dirilis setelah 2 Agustus 2026 diterapkan secara global. Perusahaan juga menjelaskan watermark Claude tidak menambahkan karakter tersembunyi dan tidak memuat informasi yang dapat mengidentifikasi pengguna, organisasi, maupun percakapan.

Perbedaan pendekatan ini penting bagi pengguna di luar Eropa. OpenAI saat ini memilih penerapan ChatGPT dan Codex berdasarkan wilayah Uni Eropa, sedangkan Anthropic menerapkan watermark Claude secara global.

Bagi penulis, pengembang, dan pengguna AI di Jogja, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa asal-usul konten AI semakin mungkin menjadi bagian dari ekosistem penerbitan dan teknologi.

Namun, watermark bukan pengganti proses penyuntingan, pemeriksaan fakta, maupun penilaian manusia. Untuk kebutuhan akademik, jurnalistik, dan profesional, transparansi mengenai penggunaan AI tetap penting meskipun sebuah teks tidak memiliki tanda yang dapat dilihat pembaca.

OpenAI sendiri menyebut pendekatan watermark tersebut masih akan dievaluasi seiring perkembangan teknologi, standar, dan bukti mengenai efektivitasnya. Untuk saat ini, perusahaan belum menjadikan watermark teks sebagai default global bagi seluruh pengguna ChatGPT dan Codex.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online