Binance Dikabarkan Diretas, Aset US$6,3 Miliar Disebut Raib

Jumali
Jumali Sabtu, 31 Oktober 2026 22:47 WIB
Binance Dikabarkan Diretas, Aset US$6,3 Miliar Disebut Raib

Foto ilustrasi pereta/hacker. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA--Bursa kripto Binance dikabarkan mengalami peretasan yang menyebabkan aset senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114 triliun berpindah dari platform tersebut. Di tengah penyelidikan, dana senilai US$3 miliar disebut telah ditemukan dan dibekukan, sedangkan keberadaan sisa aset masih belum diketahui.

Binance dikabarkan kehilangan aset kripto senilai US$6,3 miliar akibat peretasan. Sebagian dana disebut telah dibekukan, sementara penyelidikan berlangsung.Insiden ini terungkap setelah tim keamanan Binance mendeteksi transaksi mencurigakan yang diduga berkaitan dengan serangan siber. Perusahaan kemudian mengambil langkah darurat dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk menangani kejadian tersebut.

"Ini adalah serangan yang kompleks, kami melakukan apa yang kami bisa dalam koordinasi dengan penegak hukum untuk mengatasinya," kata Binance melalui media sosial X.

Binance menyatakan aset milik pengguna tetap aman. Bursa tersebut juga disebut tengah bekerja sama dengan mitra untuk memulihkan layanan penarikan dana dalam waktu 45 jam ke depan.

US$3 Miliar Aset Disebut Telah Dibekukan

Dari total aset senilai US$6,3 miliar yang dilaporkan hilang, sekitar US$3 miliar diklaim telah ditemukan dan dibekukan. Sementara itu, sisa dana senilai US$3,3 miliar belum diketahui keberadaannya.

Sejumlah pihak yang disebut terlibat dalam pembekuan aset tersebut antara lain penerbit stablecoin Tether dan Circle, serta World Liberty Financial yang dikaitkan dengan keluarga Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dana yang dibekukan tersebar di beberapa jaringan blockchain. Penyelidik masih menelusuri pergerakan aset tersebut untuk mencegah upaya pencucian uang maupun pencairan ke sistem keuangan arus utama.

Hingga kini, Binance belum mengungkapkan secara lengkap rincian teknis serangan tersebut. Namun, keterlibatan sejumlah penerbit stablecoin dalam pembekuan dana menunjukkan bahwa penanganan insiden ini melibatkan berbagai pihak di ekosistem aset kripto.

Cadangan Binance Diklaim Bisa Menanggung Kerugian

Binance disebut memiliki dana cadangan senilai US$1 miliar untuk melindungi aset pengguna dari risiko pembobolan. CEO Binance, Teng, menyatakan dana cadangan tersebut, ditambah kas perusahaan, dapat menanggung kerugian akibat insiden kebocoran aset.

Sebagian besar aktivitas serangan dikabarkan berhasil dideteksi dalam kurun waktu 20 menit pada Kamis malam. Meski demikian, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap pelaku dan melacak aset yang belum ditemukan.

Analis blockchain dari TRM Labs dan Chainalysis menilai pola serangan tersebut menyerupai aktivitas peretas asal Korea Utara.

TRM menjelaskan, pelaku diduga berhasil memerintahkan dompet yang digunakan Binance untuk mengirimkan seluruh dana ke dompet yang mereka kuasai. Metode tersebut disebut memiliki kemiripan dengan modus dalam peretasan bursa kripto Bybit.

"TRM menilai serangan ini dilakukan oleh hacker elit Korea Utara."

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online