Advertisement

GAIKINDO: Penjualan Kendaraan Elektrik Melonjak Tajam

Newswire
Sabtu, 17 Januari 2026 - 04:37 WIB
Abdul Hamied Razak
GAIKINDO: Penjualan Kendaraan Elektrik Melonjak Tajam Ilustrasi SPKLU milik PLN. - Istimewa

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Penjualan kendaraan elektrik di Indonesia melonjak signifikan sepanjang 2025. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO), total penjualan kendaraan elektrik mencapai 175.144 unit, naik dari 103.228 unit pada 2024.

Dalam laporan yang diterima pada Jumat, GAIKINDO mencatat lonjakan penjualan turut mendorong kenaikan pangsa pasar kendaraan elektrik—yang mencakup Hybrid Vehicle (HEV), Plug-in Hybrid Vehicle (PHEV), dan Battery Electric Vehicle (BEV)—dari 11,9% pada 2024 menjadi 21,8% pada 2025.

Advertisement

Secara rinci, penjualan HEV meningkat dari 59.903 unit menjadi 65.943 unit pada 2025. Kategori PHEV mengalami lonjakan paling drastis, dari 136 unit pada 2024 menjadi 5.270 unit pada 2025. Sementara itu, BEV tumbuh dua kali lipat lebih, dari 43.188 unit menjadi 103.931 unit pada periode yang sama.

Pangsa pasar masing-masing segmen juga menunjukkan tren positif. HEV naik dari 6,9% menjadi 8,2%, sedangkan BEV meningkat tajam dari 5% menjadi 12,9%. PHEV turut merangkak naik ke posisi 0,7% pada 2025.

Tren pertumbuhan kendaraan elektrik terlihat konsisten dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, penjualan kendaraan elektrik baru mencapai 1.324 unit, sementara pangsa pasarnya hanya 0,2%. Angka tersebut kini tumbuh secara eksponensial hingga mencapai 175.144 unit dengan pangsa pasar 21,8% pada 2025.

Di sisi lain, penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) menunjukkan tren penurunan meski volumenya masih mendominasi pasar. Pada 2025, penjualan ICE tercatat 628.543 unit atau 78,2% dari total penjualan wholesale yang mencapai 803.687 unit. Angka itu menurun dibandingkan 2024, ketika penjualan ICE mencapai 762.495 unit atau 88,1% dari total penjualan.

Secara keseluruhan, pangsa pasar ICE menurun dari 99,8% pada 2020 menjadi 78,2% pada 2025, menunjukkan pergeseran preferensi konsumen yang semakin terbuka terhadap teknologi elektrik.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai perubahan pasar ini menjadi sinyal bagi pelaku industri untuk memperbaharui pendekatan pemasaran.

“Strategi marketing digeser, dari sekadar isu lingkungan pindah ke value, bukan cuma produk yang canggih,” ujar Yannes, Jumat (16/1/2026).

Menurut dia, konsumen kini lebih mempertimbangkan harga dan nilai guna dibandingkan sekadar teknologi. Ia juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) untuk menjaga daya saing.

“Mau tidak mau, mereka harus mampu menembus ambang batas TKDN minimal 40% dan mencapai lokalisasi yang riil secepat mungkin agar bisa memitigasi dampak kenaikan PPN 12% dan fluktuasi kurs,” papar Yannes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Tolitoli, BMKG Pastikan Aman

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Tolitoli, BMKG Pastikan Aman

News
| Sabtu, 17 Januari 2026, 06:47 WIB

Advertisement

Tradisi Labuhan Sarangan Magetan Raih Pengakuan WBTb

Tradisi Labuhan Sarangan Magetan Raih Pengakuan WBTb

Wisata
| Jum'at, 16 Januari 2026, 21:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement