Advertisement
Pasar Gelap Kepung Limbah Baterai EV China, Ancaman Ledakan Menguat
Ilustrasi mobil listrik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA— Upaya China membangun industri daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berkelanjutan menghadapi tantangan serius pada 2026. Sektor strategis ini justru didominasi praktik ilegal yang mengancam keselamatan publik sekaligus memperparah risiko pencemaran lingkungan. Jaringan pasar gelap baterai EV bekas dilaporkan beroperasi luas di luar sistem pengawasan resmi pemerintah.
Dilansir dari Carnews China, ada sekitar 75 persen baterai EV bekas di Negeri Tirai Bambu berakhir di bengkel daur ulang ilegal tanpa izin. Para pelaku pasar gelap mampu menawarkan harga beli jauh lebih tinggi dibandingkan industri resmi, dengan keuntungan mencapai sekitar 10.000 yuan atau setara Rp24 juta per kendaraan. Kondisi ini membuat pasokan baterai terus mengalir ke jalur ilegal, sementara perusahaan legal yang memiliki kapasitas daur ulang hingga 3,8 juta ton per tahun justru kekurangan bahan baku.
Advertisement
Proses pengolahan baterai di bengkel rahasia dilakukan secara manual di lokasi yang tidak memenuhi standar keselamatan. Tanpa alat pelindung diri memadai, sel baterai dengan kapasitas di atas 50 persen kerap hanya dilapisi ulang dan dijual kembali sebagai produk rekondisi. Praktik ini dinilai sangat berbahaya karena tidak melalui uji keamanan yang layak sebelum kembali beredar di pasar.
Sementara itu, sel baterai berkualitas rendah dihancurkan untuk mengekstraksi logam bernilai tinggi seperti lithium, nikel, dan kobalt menggunakan metode primitif. Seusai proses tersebut, sisa limbah kimia berbahaya kerap dibuang sembarangan sehingga mencemari tanah dan sumber air secara permanen. Dampak jangka panjangnya dinilai dapat memicu krisis lingkungan yang sulit dipulihkan.
BACA JUGA
Maraknya peredaran baterai rekondisi ilegal menjadi ancaman nyata bagi pengguna kendaraan listrik. Selain meningkatkan risiko kebakaran dan ledakan, praktik ini juga menghambat terbentuknya sistem ekonomi sirkular yang terintegrasi. Pemerintah China menilai lonjakan limbah baterai EV di masa depan membutuhkan pengelolaan ketat agar tidak berubah menjadi bencana lingkungan berskala nasional.
Sebagai respons, pemerintah China menyiapkan regulasi baru bertajuk Interim Measures for the Management of Recycling and Comprehensive Utilization of Waste Power Batteries yang dijadwalkan berlaku mulai April 2026. Aturan ini menitikberatkan pada sistem keterlacakan (traceability) dan pengawasan menyeluruh terhadap rantai pasok baterai dari hulu hingga hilir. Keberhasilan kebijakan ini dinilai krusial untuk memutus mata rantai pasar gelap seusai pengelolaan limbah energi baru China memasuki fase kritis.
| Aspek | Bengkel Ilegal (Pasar Gelap) | Industri Resmi (Legal) |
|---|---|---|
| Pangsa Pasar | Mendominasi sekitar 75% | Sekitar 25% |
| Metode Kerja | Manual, tanpa alat pelindung diri | Teknologi tinggi & standar keselamatan |
| Dampak Lingkungan | Pencemaran tanah, air, dan limbah B3 | Ramah lingkungan & terkendali |
| Risiko Keamanan | Bahaya ledakan, kebakaran, dan racun | Teruji dan terjamin |
| Keuntungan | Sangat tinggi, harga beli agresif | Tertekan biaya operasional |
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sabtu Berdarah di Balochistan Pakistan, 33 Orang Tewas Oleh Separatis
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



