Dubai Access Club Tawarkan Visa 5 Tahun dan Kredit Rp9,8 Juta untuk Turis
Dubai Access Club menawarkan visa kunjungan lima tahun, kartu SIM gratis, dan kredit Rp9,8 juta. Simak biaya serta syarat pendaftarannya.
Spotify./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Spotify berencana menghadirkan fitur remix musik berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan pengguna mengubah lagu menjadi versi baru hanya dengan beberapa kali sentuhan. Namun, rencana tersebut memunculkan perdebatan mengenai masa depan industri musik, perlindungan hak cipta, dan semakin banyaknya konten buatan AI di layanan streaming.
Menurut laporan Financial Times, Spotify menjalin kemitraan strategis dengan Believe, perusahaan distribusi musik, untuk mengembangkan fitur tersebut. Layanan tambahan berbayar itu direncanakan meluncur pada awal 2027.
Pengguna disebut perlu membayar sekitar US$5 atau setara Rp90.000 per bulan di luar biaya langganan untuk mengakses fitur tersebut. Melalui teknologi AI, pelanggan nantinya dapat membuat remix atau versi cover dari lagu yang berpartisipasi.
Fitur ini dirancang untuk memungkinkan pengguna mengubah genre musik hingga mengganti vokal sebuah lagu menggunakan karakter suara artis lain. Dengan demikian, satu trek musik dapat diolah menjadi beberapa versi berbeda sesuai kreativitas pengguna.
Spotify membela rencana pengembangan fitur tersebut dengan alasan remix buatan penggemar sebenarnya sudah lama beredar di internet. Namun, praktik itu dinilai belum selalu memberikan kompensasi finansial yang layak kepada musisi dan penulis lagu pemilik karya asli.
Perusahaan streaming asal Swedia tersebut menyatakan artis dan pemegang hak cipta akan memperoleh royalti ketika remix berbasis AI diputar oleh pendengar.
Spotify juga berencana menyertakan tautan langsung menuju lagu asli pada setiap hasil remix maupun cover. Dengan begitu, pendengar tetap memiliki akses untuk menemukan dan mendengarkan karya versi aslinya.
Meski demikian, mekanisme pembagian keuntungan masih menjadi perhatian. Spotify disebut telah menyiapkan sistem opt-in, yakni mekanisme yang memungkinkan pemegang hak cipta memilih untuk berpartisipasi dalam fitur tersebut.
Namun, rincian skema royalti untuk masing-masing artis belum dijelaskan secara terperinci. Transparansi pembagian pendapatan pun menjadi salah satu hal yang dinantikan para pelaku industri musik.
Rencana tersebut memunculkan sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan langkah Spotify sebelumnya. Perusahaan itu pada tahun lalu sempat mengumumkan upaya membersihkan konten musik AI berkualitas rendah dari platformnya.
Kini, Spotify justru berencana menghadirkan fitur komersial yang memungkinkan pengguna membuat lebih banyak musik hasil olahan AI. Perubahan arah ini memicu pertanyaan mengenai kebijakan perusahaan dalam menjaga kualitas katalog musik dan melindungi karya seniman.
Sejumlah pengguna juga menyampaikan penolakan melalui media sosial Reddit. Komentar yang mendapat banyak dukungan menilai kebijakan tersebut berpotensi merendahkan proses kreatif dan dedikasi musisi yang menghasilkan karya secara langsung.
Sebagian pengguna berpendapat musik buatan AI tidak memiliki unsur ekspresi dan pengalaman manusia seperti karya yang diciptakan seniman. Kritik tersebut mencerminkan kekhawatiran sebagian pendengar terhadap semakin luasnya penggunaan AI dalam produksi musik.
Di sisi lain, tidak semua pelaku industri menolak perkembangan teknologi tersebut. Produser sekaligus rapper Jermaine Dupri menyatakan terbuka terhadap arah baru Spotify, dengan syarat perusahaan menerapkan pembagian keuntungan secara transparan dan memberikan ruang bagi artis untuk menentukan tarif royalti mereka.
Selain persoalan hak cipta dan pendapatan musisi, penggunaan AI dalam musik juga memunculkan kekhawatiran mengenai pengalaman mendengarkan. Salah satu persoalannya adalah kemampuan pendengar mengenali apakah sebuah lagu dibuat oleh manusia atau dihasilkan menggunakan AI.
Dalam naskah sumber disebutkan sebuah riset yang menunjukkan hanya sekitar 3 persen pendengar mampu mengenali lagu buatan AI melalui pendengaran. Angka tersebut memperlihatkan tantangan yang mungkin dihadapi pengguna ketika konten hasil AI semakin banyak beredar.
Jika fitur remix tersebut benar-benar diluncurkan, pendengar berpotensi menemukan lebih banyak versi lagu hasil olahan AI di Spotify. Karena itu, kejelasan penanda konten, persetujuan artis, serta transparansi royalti menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
Bagi pengguna, fitur ini dapat membuka peluang untuk mengeksplorasi musik dengan cara baru. Namun, bagi musisi dan pemegang hak cipta, penerapannya perlu disertai aturan yang jelas agar kreativitas penggemar dan perkembangan teknologi tidak mengabaikan hak serta kontribusi pencipta lagu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dubai Access Club menawarkan visa kunjungan lima tahun, kartu SIM gratis, dan kredit Rp9,8 juta. Simak biaya serta syarat pendaftarannya.
Pemkab Sleman masih mengurus legalitas lahan seluas 5,1 hektare untuk pembangunan Sekolah Rakyat berasrama di Seyegan.
Celios memperkirakan kerugian ekonomi dan kesehatan akibat karhutla 2026 mencapai Rp565,03 triliun. Simak wilayah dan sektor terdampak.
Sekda DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti meminta koordinasi terkait pemasangan kawat berduri di kawasan Titik Nol Jogja.
Normalisasi Luweng Ngegong di Tanjungsari menelan Rp255 juta untuk mengurangi risiko banjir yang menggenangi kawasan SMK Negeri 1 Tanjungsari.
BGN mencatat realisasi anggaran MBG Rp165 triliun, menjangkau 58 juta penerima dan menyerap 1,03 juta tenaga kerja lokal.