Huawei Mate XT2 Meluncur, Harga Tembus Rp65,7 Juta

Jumali
Jumali Senin, 07 September 2026 21:47 WIB
Huawei Mate XT2 Meluncur, Harga Tembus Rp65,7 Juta

Huawei Mate XT2/Reuters

Harianjogja.com, JOGJA— Huawei kembali memperkuat lini ponsel lipat premiumnya dengan meluncurkan Mate XT2 pada Senin (7/9/2026). Perangkat tersebut mempertahankan konsep tri-fold yang memungkinkan layar dilipat dua kali hingga terbuka menjadi perangkat berukuran seperti tablet.

Peluncuran Mate XT2 berlangsung ketika persaingan pasar ponsel premium di China semakin ketat. Huawei harus menghadapi Xiaomi yang juga menyiapkan perangkat lipat baru, sementara Apple dijadwalkan memperkenalkan lini iPhone terbarunya pada Rabu (9/9/2026).

Mate XT2 menjadi salah satu perangkat yang diandalkan Huawei untuk mempertahankan posisinya di pasar domestik. Ponsel tersebut membawa chip terbaru buatan perusahaan, Kirin 9050 Pro, yang diklaim mampu meningkatkan kemampuan komputasi sekaligus menggunakan energi lebih efisien.

Namun, teknologi tersebut dibanderol dengan harga premium.

Menurut laporan Reuters, harga Mate XT2 dimulai dari 19.999 yuan atau sekitar Rp52,5 juta dengan asumsi kurs Rp2.626,91 per yuan. Sementara varian dengan spesifikasi tertinggi dibanderol 24.999 yuan atau sekitar Rp65,7 juta.

Huawei akan mulai menjual Mate XT2 pada 12 September 2026.

Harga Mate XT2 ikut terdampak kenaikan biaya komponen

Harga menjadi salah satu persoalan yang dihadapi Huawei dalam memperkenalkan perangkat terbarunya.

Direktur Eksekutif Huawei Richard Yu mengatakan kenaikan harga komponen memori turut meningkatkan biaya produksi. Kondisi tersebut membuat penentuan harga perangkat baru menjadi lebih sulit.

"Penetapan harga saat ini menjadi tantangan besar karena biaya memori meningkat tajam. Kami mengadopsi banyak teknologi baru dan tekanan biaya sangat besar," ujar Yu dalam konferensi pers.

Kenaikan biaya komponen memang menjadi salah satu tekanan yang sedang dirasakan industri smartphone. Data IDC menunjukkan pasar smartphone China pada kuartal II 2026 menyusut 4,3 persen secara tahunan menjadi sekitar 66 juta unit.

Dalam periode tersebut, Huawei justru mencatat pertumbuhan pengiriman sebesar 19,4 persen. Apple juga tumbuh 24,4 persen, sementara sejumlah produsen Android lainnya mengalami penurunan.

Situasi itu membuat peluncuran Mate XT2 berlangsung dalam kondisi pasar yang tidak sepenuhnya menguntungkan. Konsumen menghadapi harga perangkat yang semakin tinggi, sedangkan produsen harus mengantisipasi kenaikan biaya komponen.

Kirin 9050 Pro menjadi salah satu andalan

Salah satu pembaruan utama pada Mate XT2 terletak pada dapur pacunya.

Huawei membekali perangkat tersebut dengan Kirin 9050 Pro. Perusahaan menyebut chip itu dirancang untuk memberikan kemampuan komputasi lebih besar dengan penggunaan energi yang lebih rendah.

Kirin 9050 Pro menggunakan arsitektur LogicFolding yang dikaitkan Huawei dengan prinsip Tau Scaling Law. Huawei memperkenalkan prinsip tersebut pada Mei 2026 sebagai bagian dari pengembangan teknologi komputasi perusahaan.

Pengembangan chip secara mandiri menjadi penting bagi Huawei karena perusahaan masih menghadapi pembatasan Amerika Serikat terhadap akses teknologi canggih.

Dengan mengembangkan teknologi chip sendiri, Huawei berupaya mengurangi ketergantungan terhadap teknologi yang berada di luar kendalinya.

Selain prosesor, Mate XT2 juga membawa sejumlah perubahan pada sisi perangkat keras.

Huawei mendesain ulang mekanisme pelipatannya dan meningkatkan ketahanan terhadap air. Ponsel tersebut juga dilengkapi fitur layar privasi yang dapat membatasi pandangan orang di sekitar terhadap tampilan layar.

Kamera juga mendapatkan peningkatan dibandingkan generasi sebelumnya.

Huawei mengklaim performa keseluruhan Mate XT2 meningkat 42 persen dibandingkan seri sebelumnya. Angka tersebut merupakan hasil pengujian internal perusahaan, sehingga tidak dapat diposisikan sebagai hasil pengujian independen.

Huawei masih dominan di pasar ponsel China

Peluncuran Mate XT2 juga memperlihatkan betapa pentingnya pasar domestik bagi Huawei.

Berdasarkan data IDC untuk kuartal II 2026, Huawei menguasai 22,6 persen pangsa pasar smartphone China. Posisi tersebut menempatkan Huawei di peringkat pertama, diikuti Apple dengan 18,1 persen.

Xiaomi berada di posisi berikutnya dengan pangsa pasar 12,4 persen.

Dominasi Huawei bahkan lebih kuat pada kategori ponsel lipat.

Menurut data Smart Analytics Global yang dikutip Reuters, Huawei menyumbang sekitar 68 persen pengiriman ponsel lipat di China pada kuartal II 2026. Angka tersebut menunjukkan kuatnya posisi Huawei pada kategori perangkat yang menjadi salah satu arena persaingan teknologi premium.

Mate XT2 hadir untuk mempertahankan keunggulan tersebut ketika kompetitor mulai memperluas produk dengan konsep serupa.

Xiaomi dijadwalkan memperkenalkan ponsel lipat pesaing pada hari yang sama dengan peluncuran Mate XT2. Sementara itu, Apple akan memperkenalkan seri iPhone terbaru pada 9 September.

Ada ekspektasi bahwa Apple dapat memperkenalkan ponsel lipat, tetapi hal tersebut masih berupa perkiraan menjelang acara peluncuran dan bukan informasi yang telah dikonfirmasi perusahaan.

Samsung lebih dulu masuk persaingan tri-fold

Persaingan ponsel dengan tiga bagian layar juga tidak hanya melibatkan perusahaan China.

Samsung Electronics, yang merupakan salah satu pemain terbesar di pasar ponsel lipat global, telah lebih dulu memperkenalkan perangkat tri-fold pada Desember 2025.

Namun, penjualan perangkat tersebut dilaporkan dihentikan setelah sekitar tiga bulan.

Samsung kemudian kembali memperluas portofolio ponsel lipat pada Juli 2026 dengan menghadirkan perangkat yang memiliki ukuran menyerupai paspor ketika dilipat.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konsep ponsel yang dapat berubah menjadi perangkat berukuran lebih besar masih menjadi area eksperimen bagi produsen smartphone besar.

Huawei sendiri telah mempertahankan posisi sebagai satu-satunya merek besar yang secara luas menjual ponsel tri-fold sebelum kompetitor baru masuk ke kategori tersebut.

Huawei tetap menghadapi tekanan dari Amerika Serikat

Di balik penguatan produk di pasar domestik, Huawei masih menghadapi pembatasan di Amerika Serikat.

Perusahaan tersebut tidak menjual produknya di pasar AS akibat sanksi dan pembatasan yang diberlakukan pemerintah Amerika Serikat. Washington menilai Huawei sebagai risiko keamanan nasional.

Kondisi itu membuat pasar China menjadi semakin penting bagi strategi bisnis Huawei.

Data IDC menunjukkan Huawei bukan hanya memimpin pasar smartphone China, tetapi juga menjadi salah satu dari sedikit produsen yang mampu mencatat pertumbuhan ketika pasar secara keseluruhan mengalami penurunan.

Peluncuran Mate XT2 kemudian menjadi bagian dari strategi Huawei mempertahankan posisi tersebut.

Dengan desain tri-fold, chip Kirin 9050 Pro, mekanisme lipatan yang diperbarui, fitur privasi, ketahanan terhadap air yang ditingkatkan, serta kamera yang diperbarui, Huawei mencoba mempertahankan daya tarik perangkat premiumnya di tengah persaingan yang semakin padat.

Namun, harga hingga 24.999 yuan membuat Mate XT2 menyasar konsumen kelas premium. Di sisi lain, kenaikan biaya memori dan komponen menjadi tantangan bagi Huawei maupun produsen smartphone lain dalam menentukan harga perangkat generasi terbaru.

Persaingan pada paruh kedua 2026 pun tidak lagi hanya soal siapa yang mampu menghadirkan layar lipat paling inovatif. Harga, efisiensi chip, daya tahan perangkat, fitur privasi, serta kemampuan mempertahankan ekosistem pengguna menjadi faktor yang semakin menentukan posisi masing-masing merek di pasar smartphone premium China.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online